Ketika Angka Tak Lagi Menyembunyikan Kebutuhan Rakyat
Ada saat ketika angka tidak lagi mampu menjelaskan realitas yang terjadi. Ketika grafik pertumbuhan ekonomi tidak cukup untuk menggambarkan suasana sepi di warung-warung, pasar yang lesu, dan sektor riil yang kesulitan bergerak. Di tengah pemberitaan tentang neraca keuangan dan penilaian kinerja, ada rakyat yang merasa tidak diwakili oleh angka-angka tersebut.
Pada momen itu, sebuah pernyataan singkat membuat ruang DPR terdiam: “Ekonomi kita dicekik.” Kalimat ini bukan sekadar retorika, melainkan pengakuan nyata. Ini adalah koreksi terhadap sistem yang selama ini terlalu fokus pada angka tanpa memperhatikan kondisi riil masyarakat.
Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang baru, datang dengan pengalaman pahit dari masa lalu. Ia tahu betapa sulitnya menghadapi krisis ekonomi. Pernah ia berdiri di tengah badai 1998, ketika bunga bank naik hingga 60% dan uang primer melonjak 100%. Saat itu, negara justru membiayai kehancuran ekonomi sendiri. Dan ia juga tahu bahwa bangsa ini cenderung cepat lupa. Pada masa pandemi 2020, kesalahan serupa terulang. Likuiditas dicekik, ekonomi nyaris kolaps. Sampai akhirnya ia diberi kesempatan untuk memberikan solusi.
Warisan yang Dicekik oleh Angka
Purbaya menegaskan bahwa masalah utamanya sederhana: banyak uang negara yang terjebak di Bank Indonesia. Pajak ditarik secara agresif, namun belanja pemerintah lambat. Bank lebih memilih menyimpan dana daripada menyalurkan kredit. Akibatnya, sektor riil kesulitan bergerak, dan rakyat menjadi korban.
Ia tahu rasanya menghadapi krisis. Dari pengalamannya, ia memahami bahwa sistem harus diubah. Dengan langkah-langkah konkrit, ia mulai membuka pintu fiskal yang selama ini tertutup rapat. Tidak hanya teori, tapi aksi nyata.
Rp200 Triliun Ditebar, Tapi Tidak Boleh Digunakan untuk SBN
Kini, pemerintah mengambil langkah korektif. Dana sebesar Rp200 triliun yang ditebar ke perbankan tidak boleh digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN). Ini bukan sekadar aturan teknis, melainkan pergeseran paradigma. Sebelumnya, bank cenderung aman dengan membeli SBN, bukan menyalurkan kredit. Hasilnya, uang mengendap di sistem tanpa menyentuh rakyat.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menyebut praktik ini sebagai “counterproductive”. Langkah ini menandai pergeseran dari moneter pasif ke fiskal aktif. Dana yang sebelumnya mengendap di BI dan reverse repo kini diarahkan untuk mendukung sektor riil.
Namun, pertanyaannya tetap ada: apakah bank siap menyalurkan kredit? Apakah regulasi cukup kuat untuk memastikan dana ini benar-benar mencapai UMKM, pangan, dan industri strategis?
Soemitronomics: Dari Teori ke Tindakan
Soemitronomics, yang sempat disebut sebagai nostalgia atas nama besar Soemitro Djojohadikusumo, kini menjadi manifesto fiskal baru. Konsep ini menekankan belanja berani, kemandirian ekonomi, dan keberpihakan pada sektor riil.
Purbaya mulai mewujudkannya dengan tindakan nyata:
– Rp100 triliun sudah dipulangkan ke sistem perbankan.
– Belanja anggaran dipercepat, dengan monitoring publik bulanan.
– Sektor swasta diberi ruang bernapas, bukan dikendalikan.
– Dana Rp200 triliun ditebar, tapi diarahkan untuk kredit produktif, bukan portofolio aman.
Ia percaya bahwa jika dua mesin, fiskal dan moneter, bekerja seirama, pertumbuhan 6% bukan lagi mimpi.
Kejujuran yang Tak Nyaman, Tapi Perlu
Purbaya tahu bahwa pernyataannya bisa dianggap sombong. Namun, ia tidak peduli. Ia yakin bahwa kejujuran diperlukan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan tindakan nyata, ia membuka pintu fiskal yang selama ini terlalu rapat. Ia membiarkan angin segar masuk ke sektor riil dan mengajak publik untuk tidak hanya berharap, tapi juga mengawasi.
Penutup: Dari Gerbang IMF ke Pintu Sendiri
Sri Mulyani pamit dengan tenang. Tapi Purbaya datang dengan keberanian. Ia tidak sedang membantah pribadi, tapi membongkar sistem. Dalam ruang publik yang sering penuh basa-basi, keberanian seperti ini adalah cahaya.
Kita sedang menyaksikan bukan hanya reshuffle, tapi koreksi sejarah. Harapan adalah bahan bakar. Tapi pengawasan adalah rem yang menjaga arah. Selamat datang di babak lanjutan Soemitronomics. Bukan lagi teori. Tapi keberanian yang sedang diuji. Di tengah meja, bukan lagi di pinggir.