Situasi Kemanusiaan di Kota Gaza yang Semakin Memburuk
Tank-tank militer Israel terus melaju ke pusat Kota Gaza, memperketat penggerebekan dan menekan penduduk untuk berpindah ke wilayah pesisir. Serangan ini dilakukan dari dua arah, menciptakan tekanan besar pada warga setempat yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Wilayah tengah dan selatan Jalur Gaza menjadi tempat berkumpulnya para pengungsi yang mencari perlindungan sementara.
Sejumlah besar penduduk kini bermukim di jalanan dan lapangan umum, terutama di sepanjang Jalan Salah al-Din. Mereka membawa barang-barang pribadi dan mencoba bertahan dalam kondisi yang sangat sulit. Kurangnya akses air bersih, layanan kesehatan yang minim, serta penyebaran penyakit akibat sanitasi buruk menjadi tantangan besar bagi masyarakat.
Marzouqa Abu Seria, seorang pengungsi dari wilayah utara Gaza, mengungkapkan rasa sakit dan ketakutan yang dialaminya. Ia mengatakan bahwa hidup di Gaza telah berubah menjadi penuh kematian dan teror. “Kami sangat menderita, dan perang ini telah menghancurkan kami,” katanya. Pengalaman serupa dialami oleh banyak keluarga lain yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena serangan yang tidak henti-hentinya.
Pengungsi Palestina juga terlihat berjalan di sepanjang jalan pantai menuju Gaza selatan. Mereka membawa semua barang bawaan mereka sambil berusaha mencari tempat yang lebih aman. Sebagian dari mereka bahkan tidur di jalan selama beberapa hari karena tidak dapat menemukan transportasi yang memadai.
Serangan Militer yang Menyebabkan Kekacauan
Militer Israel dikabarkan terus melakukan operasi militer dengan dukungan dari udara. Infanteri, tank, dan artileri dikerahkan ke pusat kota untuk memberikan tekanan pada pejuang Hamas. Dari barat laut dan tenggara, pasukan Israel memperluas area serangan, menjepit penduduk di tengah kota dan mendorong mereka ke wilayah barat, dekat jalan pesisir al-Rashid.
Serangan yang terus-menerus menciptakan kepanikan dan ketakutan di kalangan penduduk. Warga Gaza menggambarkan serangan yang mereka alami, termasuk serangan udara menggunakan drone dan jet tempur, serta ledakan dari kendaraan tak berawak yang diperintahkan dari jarak jauh. Banyak korban jiwa tercatat dalam serangan tersebut, dengan sedikitnya 40 orang syahid di Kota Gaza pada hari Kamis.
Ancaman terhadap Bantuan Kemanusiaan
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan. Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA) mengingatkan bahwa bantuan terakhir yang diberikan kepada penduduk Gaza kini terancam. OCHA menyebut tindakan Israel sebagai “secara sistematis menghalangi” upaya distribusi bantuan. Penutupan penyeberangan Zikim dan larangan makanan tertentu semakin memperparah kesulitan penduduk.
Di luar kota, serangan Israel juga menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina di bagian lain wilayah kantong tersebut. Sementara itu, empat tentara Israel dilaporkan tewas di kota Rafah, Gaza selatan.
Kritik terhadap Tindakan Israel
Komisi Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) mengecam tindakan Israel yang dinilai tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil dalam serangan udaranya. Kritik ini disampaikan melalui media sosial, menyoroti kekhawatiran terhadap pelanggaran hukum internasional.
Di tengah situasi kritis ini, Amerika Serikat memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata di Gaza. Resolusi ini juga menuntut pencabutan pembatasan bantuan dan pemulangan sandera yang ditahan oleh Hamas. Representatif Inggris untuk PBB, Barbara Woodward, menyatakan bahwa ekspansi operasi militer Israel membuat dunia semakin jauh dari kesepakatan yang bisa memulangkan sandera dan mengakhiri penderitaan di Gaza.