Kisah Angga, Pasien Gagal Ginjal yang Terus Berjuang dengan Bantuan BPJS Kesehatan

Pagi itu, mentari mulai menampakkan parasnya dari ufuk timur. Pelan tapi pasti, sinarnya menghangatkan suasana di kawasan Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Di sini, Yosafat Angga Praditya Nugroho (28) siap beranjak dari rumahnya menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Moewardi. Berbekal kartu BPJS Kesehatan, ia akan menjalani cuci darah yang sudah dilakoninya selama satu dekade terakhir.

Angga adalah alumni Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan seorang pasien gagal ginjal. Sesampainya di lokasi, ia bergegas menuju ke fasilitas hemodialisis Gedung Flamboyan lantai 4 untuk menjalani perawatan. Bersamaan dengan mesin hemodialisis yang berputar, Angga mulai menceritakan kisahnya. Ia divonis gagal ginjal pada 2014 silam, saat masih duduk di kelas 1 SMA.

Awalnya, Angga merasa sakit karena kakinya bengkak selama tiga hari. Ia diajak periksa ke dokter ortopedi, khawatir ada cidera patah atau retak. Namun, setelah dicek, hanya terjadi peradangan. Karena masih penasaran, ia kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium dan berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam, Dokter Agung Susanto di RSUD dr. Moewardi.

Hasil pemeriksaan menunjukkan nilai kreatinin 5,5 mg/dL, jauh di atas normal yang seharusnya 0,7 – 1,3 mg/dL. Dokter Agung pun terkejut dan bertanya-tanya mengapa nilai tersebut begitu tinggi. Angga menjelaskan bahwa ia tidak memiliki keluhan serius, tetapi akhirnya harus diopname untuk observasi lanjutan. Setelah beberapa waktu, diketahui bahwa di ginjalnya terdapat kista yang menjadi penyebab gagal ginjal.

Manfaat BPJS Kesehatan dalam Perawatan Medis

Cuci darah perdana Angga berjalan lancar tanpa kendala baik dalam perawatan medis maupun urusan administratif. Kini, ia memiliki jadwal rutin 2 kali seminggu. Ia bersyukur menjadi peserta aktif BPJS Kesehatan di saat tak terduga. Baginya, mustahil bisa menjalani cuci darah tanpa kehadiran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Biaya cuci darah mandiri bisa mencapai Rp1,3 juta sekali tindakan. Ini belum termasuk vitamin, cek lab, dan transportasi. Angga mencoba menghitung, setidaknya butuh Rp10,4 juta untuk cuci darah sebulan. Jumlah ini hampir 5 kali lipat dari Upah Minimum Regional (UMR) Sukoharjo yang hanya Rp2,3 juta-an.

“Kalau diitung-itung, ekonominya mau sekaya apapun si pasien itu tetap gulung tikar. Perawatan pasien penyakit kronik menahun biayanya enggak murah. Jadi sangat terbantu dan bersyukur Puji Tuhan ada BPJS Kesehatan,” ucapnya.

Kesadaran Masyarakat tentang Kesehatan

Di sisi lain, Angga ikut prihatin dengan masih adanya masyarakat yang belum terlindungi BPJS Kesehatan. Ia berpendapat masyarakat enggan mengurus kepesertaan JKN karena beranggapan masih sehat, sehingga tidak perlu mengantongi kartu BPJS Kesehatan. Padahal, sakit ibarat tamu tak diundang, bisa datang tiba-tiba seperti dialami Angga.

“Masih banyak persepsi, ngapain punya BPJS, aku tidak sakit, aku sehat. Ya masak harus sakit dulu orang-orang itu baru bikin BPJS. Jadikanlah kesehatan itu kebutuhan utama. Kita harus aware dengan kesehatan sendiri,” saran Angga.

Mengikhlaskan Hidup dan Menyambut Harapan Baru

Bagi Angga, gagal ginjal bukanlah sebuah bencana yang harus ditangisi. Ia berprasangka baik kepada Sang Pencipta. Ia yakin Tuhan memberikan cobaan sebagai sarana peluntur dosa. “Selama ini dijalanin aja, enjoy, ikhlas. Dan gagal ginjal sudah bukan teman lagi, tapi sahabat. Sahabat seumur hidup dan untuk penggugur dosa. Intinya gagal ginjal bukan berarti gagal hidup,” tegas Angga.

Ia juga merasa gagal ginjal tidak menghalanginya untuk terus meraih cita-cita. Ia membuktikan dengan berhasil menyelesaikan kuliah di Program Studi Diploma III Manajemen Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UNS. Perjalanan berliku turut mewarnai perjuangan Angga. Tak mudah baginya kuliah di tengah persahabatannya dengan gagal ginjal. Namun, berkat api semangat yang tak pernah padam serta dukungan orang-orang tersayang, Angga dinyatakan lulus pada Mei 2024.

Kisah perjuangan Angga diabadikan oleh dosennya sekaligus konten kreator bernama Dr Ginanjar Rahmawan. Video wawancaranya saat wisuda viral di media sosial. Instagram Dr Ginanjar dibanjiri komentar positif. Tidak sedikit yang memberikan dukungan, sementara warganet lain turut mendoakan.

“Prinsip yang selalu aku pegang, toh yang sakit kan cuma ginjalnya. Fisik masih bisa jalan, otak masih bisa berfikir. Jadi enggak harus disesali, enggak harus sedih. Life must go on aja,” tutup Angga.

Penyebab Kematian Tertinggi ke-9 di Dunia

Berdasarkan data BPJS Kesehatan, sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani cuci darah sepanjang tahun 2024. Sedangkan terkait gagal ginjal sebagai penyebab kematian tertinggi ke-9 di dunia, ini dibenarkan Kepala Instalasi Pelayanan Ginjal dan Hipertensi RSUD dr. Moewardi, Dokter Aryo Suseno, Sp.PD., M.Kes., K-GH., FINASIM.

Laporan GBD Chronic Kidney Disease Collaboration menyebut gagal ginjal tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi ke-14 pada 2017. Sekarang makin naik jadi nomor ke-9. Diprediksi di tahun 2040 akan jadi nomor 5. Dokter Aryo mengamini tren gagal ginjal di Indonesia terus naik dari tahun ke tahun, yang menghantui golongan muda 20-40 tahun. Adapun penyebab utamanya didominasi diabetes dan hipertensi.

Komitmen BPJS Kesehatan dalam Layanan Kesehatan

BPJS Kesehatan terbentuk pada 1 Januari 2014, sebagai transformasi dari PT Askes (Persero). Semenjak awal kehadirannya hingga satu dekade ini, perawatan pasien gagal ginjal sudah masuk daftar layanan ditanggung pemerintah. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Surakarta, Debbie Nianta Musigiasari mengatakan, tidak hanya cuci darah, layanan juga termasuk klaim obat-obatan, transfusi darah, maupun pelayanan rawat inap jika diperlukan.

“Pelayanan cuci darah di cover sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan, sepanjang sesuai dengan prosedur dan kebutuhan medis pasien, serta dilakukan di fasilitas kesehatan yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan,” katanya saat dihubungi.

BPJS Kesehatan terus berkomitmen meningkatkan pelayanan pasien gagal ginjal dari berbagai aspek. Mulai penambahan kebutuhan mesin hemodialisis di faskes; simplifikasi rujukan pasien; hingga promotif preventif lewat Program Pengelolaan Penyakit Kronis. Kemajuan teknologi juga mendorong lahirnya inovasi program telemedicine, yang memudahkan pasien gagal ginjal mengakses layanan kesehatan lewat genggaman.

Debbie mencontohkan, pasien gagal ginjal masih rutin melakukan cek lab 3 bulan sekali. Mereka cukup sekali datang ke faskes, untuk hasilnya akan dikirim ke gawai pasien. Sehingga pasien tidak perlu bolak-balik lagi. Pasien cukup akses Aplikasi Komen Kementerian Kesehatan yang terintegrasi ke Primary Care BPJS Kesehatan. Layanan ini diharapkan mampu membuka akses bagi masyarakat ataupun pasien yang ingin mendapatkan layanan di fasilitas kesehatan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *