Pelatihan Pembuatan Pembalut Ramah Lingkungan untuk Remaja Putri di Aceh
Sejumlah remaja putri di SOS Children’s Village, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar, mengikuti pelatihan pembuatan pembalut ramah lingkungan. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian acara The Hive of Inong Seulanga yang diselenggarakan oleh mahasiswa penerima beasiswa U-Go Aceh bersama Ikatan Mahasiswa Berprestasi (IKANMAS) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
Kegiatan ini melibatkan 25 peserta, terdiri atas remaja putri dan ibu asuh SOS Village. Mereka didampingi oleh 17 volunteer dari berbagai universitas di Aceh. Selain praktik membuat pembalut kain, peserta juga mendapatkan materi tentang kesehatan reproduksi, pengelolaan keuangan, serta ruang diskusi seputar stigma menstruasi.
Sambutan dan Harapan Acara
Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua Panitia, Alanis, perwakilan SOS Children’s Village, serta Direktur IKANMAS FK USK, dr. Imam Maulana. Alanis menyampaikan bahwa tujuan utama dari acara ini adalah agar perempuan muda di Aceh lebih percaya diri, memahami kesehatan reproduksi, serta memiliki keterampilan praktis. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat dibagikan kembali kepada lingkungan sekitar.
Edukasi Kesehatan Reproduksi
Materi kesehatan reproduksi disampaikan oleh Salwa Keisha, awardee U-Go sekaligus perwakilan IKANMAS FK USK. Ia menjelaskan pentingnya memahami siklus menstruasi, menjaga kebersihan organ intim, serta meluruskan berbagai mitos. Menurutnya, siklus haid biasanya berlangsung selama 3–7 hari dengan siklus 28 hari. Pembalut sebaiknya diganti setiap 4–6 jam untuk mencegah infeksi.
Salwa juga menegaskan bahwa larangan berolahraga atau mencuci rambut saat haid tidak memiliki dasar medis. Ia memberikan tips praktis seperti rutin membersihkan area intim menggunakan air bersih, memakai pakaian dalam berbahan katun yang mudah menyerap keringat, serta menghindari penggunaan sabun atau cairan pembersih yang mengandung bahan kimia keras.
Peserta diajak untuk mencatat siklus menstruasi mereka, baik secara manual di kalender maupun menggunakan aplikasi ponsel, agar lebih mudah mengenali tanda-tanda normal maupun gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai.
Literasi Keuangan Remaja
Setelah itu, Nabila Al Karimah menyampaikan materi pengelolaan keuangan sederhana. Ia berbagi tips mengatur uang saku, menabung, hingga membuat strategi keuangan praktis untuk remaja. Dengan menerapkan metode sederhana seperti aturan “50-30-20”: 50 persen uang saku untuk kebutuhan harian, 30 persen untuk hiburan atau keperluan pribadi, dan 20 persen untuk ditabung.
Ia juga menyarankan remaja mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, sehingga mereka dapat mengetahui ke mana saja uang mereka digunakan. Strategi lain yang dibagikan adalah menetapkan tujuan menabung jangka pendek dan jangka panjang. Contohnya, menabung Rp2.000–Rp5.000 per hari dalam celengan atau rekening tabungan digital untuk keperluan mendesak, membeli perlengkapan sekolah, hingga merencanakan hal yang lebih besar di masa depan.
Diskusi Stigma Menstruasi
Diskusi kemudian dilanjutkan melalui Focus Group Discussion (FGD) mengenai stigma menstruasi yang masih kuat di masyarakat. Peserta saling berbagi pengalaman dan memahami pentingnya menghilangkan prasangka yang sering dialami oleh perempuan selama masa haid.
Workshop Pembalut Ramah Lingkungan
Puncak acara berupa workshop pembuatan pembalut ramah lingkungan dipandu oleh Rama Afita Dilla bersama tim. Peserta belajar memotong pola, menjahit, hingga merawat pembalut kain setelah digunakan. Suasana berlangsung interaktif selama dua jam penuh.
SOS Children’s Village Aceh mengapresiasi kegiatan ini. Bapak Rinaldi, Pimpinan SOS Children’s Village Banda Aceh, menyatakan bahwa kegiatan seperti ini membuat remaja lebih siap menghadapi masa depan. Direktur IKANMAS FK USK, dr. Imam Maulana, menambahkan bahwa kolaborasi mahasiswa dalam pengabdian masyarakat sangat penting. Ia berharap program ini berlanjut dan menjangkau lebih banyak remaja di Aceh.
Acara ditutup dengan sesi penghargaan dan dokumentasi bersama. The Hive of Inong Seulanga diharapkan menjadi langkah awal memperkuat literasi kesehatan reproduksi sekaligus menghadirkan solusi ramah lingkungan bagi remaja perempuan di Aceh.