Industri Minyak dan Gas AS Menghadapi Perubahan Besar

Industri minyak dan gas di Amerika Serikat (AS) sedang mengalami perubahan signifikan. Banyak perusahaan besar mengambil langkah-langkah drastis untuk menyesuaikan diri dengan situasi pasar yang semakin ketat. Salah satu aspek utama dari perubahan ini adalah pengurangan jumlah karyawan dan penghematan anggaran belanja modal.

Pemutusan Hubungan Kerja yang Besar-Besaran

Beberapa perusahaan minyak terbesar di AS telah mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang cukup besar. ConocoPhillips, salah satu produsen minyak terbesar di negara tersebut, merencanakan PHK hingga 25 persen dari total pekerja, yaitu sekitar 3.250 orang. Keputusan ini diambil setelah perusahaan menyelesaikan akuisisi Marathon Oil senilai 17 miliar dolar AS pada tahun 2024.

Selain ConocoPhillips, Chevron juga mengonfirmasi pemangkasan tim dengan pengurangan staf sebesar 15–20 persen. Sementara itu, BP melaporkan PHK sebanyak 7 ribu orang di seluruh dunia. Penurunan harga minyak global pada tahun 2025 memicu kebutuhan untuk merestrukturisasi organisasi dan membatasi ekspansi perusahaan.

Pengurangan karyawan ini akan dilakukan sebelum akhir tahun 2025. Akibatnya, harga saham perusahaan-perusahaan besar migas seperti ConocoPhillips turun lebih dari 4 persen pada hari pengumuman PHK.

Penghematan Anggaran Belanja Modal

Selain PHK, banyak perusahaan minyak juga melakukan pemangkasan anggaran belanja modal. Dalam laporan laba kuartalan yang dirilis pada 7 Agustus 2025, ConocoPhillips melaporkan penurunan laba menjadi 1,97 miliar dolar AS, turun dari 2,33 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Perusahaan juga mengidentifikasi penghematan sebesar lebih dari 1 miliar dolar AS.

“Kami secara aktif mengelola biaya dan fokus pada margin perusahaan,” kata manajemen ConocoPhillips dalam pengumumannya. Selain itu, Halliburton, SLB, dan OMV juga mengumumkan restrukturisasi dan pemangkasan pekerja di berbagai wilayah.

Para pelaku industri sepakat bahwa era pertumbuhan eksplosif produksi minyak AS kemungkinan besar telah berakhir. Kenaikan output AS yang membuat negara ini menjadi produsen terbesar kini terancam stagnan.

Kenaikan Produksi Minyak oleh OPEC+

Di sisi lain, negara-negara anggota OPEC+ mengambil keputusan penting untuk meningkatkan produksi minyak. Delapan negara anggota OPEC+ menyetujui kenaikan produksi sebanyak 137 ribu barel per hari mulai Oktober 2025. Keputusan ini diumumkan melalui pertemuan daring pada Minggu (7/9/2025).

Jorge Leon, analis OPEC+, menyatakan bahwa meskipun kenaikan produksi ini terlihat kecil, dampaknya sangat besar. Kenaikan produksi OPEC+ sejak April 2025 mencapai total 2,5 juta barel per hari, atau sekitar 2,4 persen dari permintaan global. Ini menggantikan pemotongan yang diberlakukan sejak 2023.

Sumber OPEC+ dalam wawancara dengan Financial Times menjelaskan bahwa para anggota mempertahankan fleksibilitas penuh untuk menunda atau membalikkan kenaikan sesuai kondisi pasar. Mereka juga menyatakan kemungkinan besar kenaikan produksi akan berlanjut selama dua belas bulan ke depan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa strategi OPEC+ beralih dari menjaga harga menjadi memperbesar pangsa pasar, meski risikonya adalah harga tetap rendah. Dengan adanya kenaikan produksi ini, persaingan dalam perebutan pangsa pasar global akan semakin ketat.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *