Komitmen L’Oréal Indonesia dalam Mendorong Ekonomi Sirkular

L’Oréal Indonesia menunjukkan komitmennya yang kuat untuk mendukung ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan ini telah berhasil mencapai target nol limbah ke tempat pembuangan akhir (zero waste to landfill) di kantor, pabrik, dan seluruh situs operasionalnya di Indonesia. Pencapaian ini sangat langka bagi industri berskala besar.

Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability L’Oréal Indonesia, menyampaikan bahwa sebagai perusahaan, mereka ingin bisnis terus berkembang namun tetap meminimalkan dampak terhadap lingkungan. Hal ini menjadi salah satu bagian dari komitmen L’Oréal for the Future, yang menerapkan strategi pencegahan total dan pengelolaan limbah secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.

Inovasi terus dikembangkan, baik dalam formula produk maupun desain dan intensitas kemasan. Salah satu terobosan penting adalah memperkenalkan model isi ulang (refill-at-home) kepada konsumen. Model ini dinilai efektif dalam mengurangi timbulan sampah tanpa mengorbankan kualitas atau pengalaman penggunaan produk.

“Refill menjadi bagian dari norma baru di L’Oréal karena tetap menjaga nilai produk sekaligus ramah lingkungan,” jelas Melanie. Selain itu, prinsip tanpa sampah juga diterapkan dalam berbagai kegiatan perusahaan, termasuk penyelenggaraan acara. Materi promosi yang berpotensi menjadi limbah dirancang agar dapat diminimalkan volumenya, bahkan bisa digunakan kembali atau dibuat dari bahan daur ulang.

Sejak 2022, L’Oréal Indonesia bergabung dengan Indonesian Packaging Recovery Organization (IPRO) bersama 17 perusahaan lain. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendukung sistem daur ulang yang lebih terstruktur. Melanie menegaskan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan misi pemerintah dalam menangani sampah secara komprehensif. Ia menambahkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab produsen, tetapi juga konsumen, UMKM, dan masyarakat luas.

“Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri tanpa dukungan publik. Harus ada sinergi bersama. Dari sisi produsen, kami terbuka untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik,” ujarnya. L’Oréal juga telah mematuhi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) No.75/2019 terkait peta jalan pengurangan sampah. Penerapan dilakukan secara bertahap, namun dengan komitmen penuh agar hasilnya konsisten.

Dalam kesempatan tersebut, Melanie menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah yang dinilai terbuka mendengar masukan dari sektor swasta. Menurutnya, membangun ekonomi sirkular hanya bisa tercapai melalui aksi bersama lintas sektor.

“Ini merupakan tanggung jawab kolektif. Kita ingin solusi yang tidak hanya baik bagi lingkungan, tetapi juga mendukung ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.

Di tahun keenam penyelenggaraannya, Katadata SAFE 2025 mengusung tema “Green for Resilience” sebagai respons terhadap tantangan krisis iklim dan dinamika global, sekaligus menegaskan pentingnya ekonomi hijau sebagai solusi strategis untuk memperkuat ketahanan dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Melalui berbagai rangkaian seperti forum tingkat tinggi, lokakarya, pameran interaktif, dan kolaborasi kreatif antara keberlanjutan dan seni, SAFE menjadi wadah penggerak aksi nyata menuju masa depan ekonomi yang inklusif dan tangguh.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *