Peran Pondok Pesantren dalam Membangun Peradaban Iqra

Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional (MQKN) merupakan ajang kompetisi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca, memahami, dan mendalami kitab kuning. Kegiatan ini diikuti oleh para santri dari berbagai provinsi di Indonesia. Tahun 2025, MQKN akan diselenggarakan di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo.

Pondok Pesantren As’adiyah didirikan oleh Al Allamah Al-Hafizh Anre Gurutta KH. Muhammad As’ad pada tahun 1930. Sejak awal berdirinya, pondok pesantren ini menjadi pusat pendidikan agama yang mengedepankan kitab kuning sebagai referensi utama. Kitab kuning yang ditulis oleh para ulama terkemuka menjadi dasar pengajaran bagi santri.

Keberadaan Pondok Pesantren As’adiyah tidak hanya memberikan wadah untuk menuntut ilmu agama, tetapi juga menjadi tempat lahirnya banyak ulama yang berkontribusi baik di dalam maupun luar negeri. Tradisi keilmuan yang ada di sini menjadi fondasi dalam membangun peradaban yang berasaskan ilmu pengetahuan.

MQKN 2025 menjadi titik tolak perkembangan khasanah keilmuan yang menjadikan kitab kuning sebagai rujukan utama. Selain itu, ajang ini juga menjadi pertama kalinya diselenggarakan secara internasional dengan sistem computer based test. Kemajuan ini menunjukkan bahwa teknologi informasi dapat menjadi alat yang positif dalam mendorong kemajuan peradaban.

Perlu dipahami bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat nilai-nilai keilmuan, bukan untuk menyebarluaskan perilaku negatif seperti penipuan atau judi online. Membaca kitab kuning adalah cara untuk memahami petunjuk yang diberikan oleh para ulama, sehingga dapat membentuk karakter dan pola pikir yang sehat.

Beberapa kitab yang akan dilombakan antara lain: Fath al-Qarîb al-Mujîb fî Syarh Alfâzh at-Taqrîb, Nazhm al-Âjurrûmîyah (al-‘Imrîthî), Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, Nûr al-Yaqîn fî Sîrah Sayyid al-Mursalîn, Tafsir al-Jalâlain, Al-Majelis al-Saniyah Fil al-Kalam Ala Arba’in An-Nawawiyah (Syarh Kitab Al-Arbain An-Nawawi), Al-Waraqat, Al-Jauhar al-Maknûn, dan Risâlah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah.

Dengan membaca kitab kuning, santri akan lebih memahami bagaimana para ulama menginterpretasikan ajaran agama. Hal ini memungkinkan mereka untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang Al Qur’an dan hadist, serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Santri yang telah memahami kitab kuning akan memiliki karakter yang matang dan perilaku yang mulia. Mereka akan selalu berpikir dengan akal sehat dan tidak mudah mengambil keputusan tanpa pertimbangan matang. Keberadaan mereka menjadi pelopor dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan.

Peradaban iqra yang dibangun atas dasar bacaan yang kuat akan senantiasa memelihara tradisi keilmuan yang tak pernah pudar. Dengan kedalaman ilmu pengetahuan, santri akan menjadi pribadi yang mampu mencari kebenaran baik dalam diri sendiri maupun melalui petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT.

Peran ulama dan santri dalam membangun peradaban iqra sangat penting. Melalui tradisi membaca dan menulis, mereka memberikan dampak positif dalam masyarakat. Pendekatan ilmu pengetahuan yang menyentuh akal sehat menjadikan pondok pesantren sebagai salah satu kekuatan perubahan dalam masyarakat.

Salah satu contoh perubahan yang terasa hingga saat ini adalah munculnya berbagai tradisi sosial yang berasal dari pendekatan kultural yang digunakan oleh ulama dan santri dalam menyebarkan ajaran Islam. Tradisi keilmuan di lingkungan pondok pesantren semakin memperkuat peran ulama dan santri dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

MQKN 2025 menjadi ajang pembuktian khasanah keilmuan pondok pesantren dalam membangun peradaban di Nusantara bahkan dunia internasional. Ajang ini juga menjadi pintu masuk bagi dunia internasional untuk melihat kekuatan perekat yang mampu menyatukan multi kultur di Indonesia melalui ilmu.

Pondok Pesantren As’adiyah sebagai tuan rumah akan melakukan interaksi keilmuan dengan beberapa negara yang diundang. Sebagai cikal bakal tradisi membaca kitab kuning, ajang ini akan menjadi ajang kompetisi ilmu pengetahuan yang menyapa peradaban dunia.

Keberkahan dari penyelenggaraan MQKN 2025 di Sulawesi Selatan akan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Gaung dan gema keberkahan ilmu pengetahuan akan semakin semarak dan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat, khususnya Kabupaten Wajo dan Pondok Pesantren As’adiyah sebagai tuan rumah.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *