Strategi Ekspansi dan Pendanaan Venteny Fortuna International Tbk (VTNY)
PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY), sebuah perusahaan keuangan berbasis teknologi, memiliki rencana untuk menambah pinjaman dari investor Jepang sebesar Rp 300 hingga Rp 400 miliar hingga akhir tahun 2025. Direktur Operasional Venteny, Milokevin Wendiady menjelaskan bahwa saat ini perusahaan tidak hanya menjalankan bisnis peer-to-peer (P2P) lending, tetapi juga menjadi super lender dengan dukungan pendanaan dari berbagai bank di dalam dan luar negeri.
Bisnis P2P lending merupakan layanan yang mempertemukan pihak yang membutuhkan pinjaman langsung dengan pemberi dana melalui platform digital. Hal ini membuat proses pendanaan lebih cepat dan transparan tanpa harus melalui lembaga keuangan tradisional. Sementara itu, pada skema super lender, terdapat penyandang dana besar yang biasanya berasal dari institusi seperti bank atau investor besar. Mereka masuk ke dalam platform P2P lending untuk menyalurkan pendanaan dalam skala yang lebih besar dan berkelanjutan.
Hingga semester I 2025, sebanyak 77% sumber pendanaan Venteny berasal dari Jepang, sedangkan sisanya sebesar 33% berasal dari pinjaman dalam denominasi rupiah, dolar Amerika Serikat, dan dolar Singapura. Perusahaan telah bekerja sama dengan Bank Danamon dan Bank Mayapada sebagai mitra bank mereka.
Ekspansi Pasar dan Strategi VTNY Hingga Akhir Tahun
Direktur Keuangan Venteny, Kaleb Solaiman mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini tengah menjajaki potensi pasar baru di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah, Bali, dan Sulawesi Selatan. Target pasar Venteny tetap sama, yaitu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), women planners, serta ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola).
Terdapat tiga strategi bisnis yang akan dilakukan oleh Venteny di masa depan:
- Partnership: Perusahaan aktif mencari mitra strategis untuk berkolaborasi, khususnya melalui aplikasi SuperApp B2B2I. SuperApp memungkinkan perusahaan bekerja sama dengan institusi untuk memberikan layanan kepada seluruh karyawan.
- Strategi Pembiayaan Business to Business: Memperkuat jaminan berupa aset atau asset based financing yang dapat membantu pengusaha mengonversi aset menjadi modal kerja atau arus kas lebih cepat dibanding mekanisme perbankan.
- Produk Inovatif: Menghadirkan layanan Earned Wage Access (EWA) yang memungkinkan karyawan mengakses sebagian gajinya sebelum tanggal pembayaran resmi. Layanan ini ditujukan agar karyawan tidak perlu mencari pinjaman darurat di luar perusahaan.
Ke depan, Venteny melihat peluang besar di layanan financial wellness atau solusi kesejahteraan keuangan, seiring meningkatnya kebutuhan di sektor ini. Sampai saat ini, perusahaan belum memiliki rencana untuk melakukan rights issue, buyback saham, atau aksi korporasi lainnya hingga semester I 2025.
Laba VTNY Naik 100% pada Semester 1 2025
Sepanjang paruh pertama 2025, VTNY mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,39 miliar. Angka ini naik 99,72% dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,70 miliar. Pendapatan perseroan juga meningkat sebesar 19,54% menjadi Rp 104,01 miliar dari Rp 87,94 miliar secara year on year (yoy). Beban pokok pendapatan juga ikut naik menjadi Rp 68,93 miliar dari Rp 58,25 miliar.
Pendapatan tersebut berasal dari penjualan barang digital sebesar Rp 47,67 miliar, bunga sebesar Rp 55,72 miliar, denda sebesar Rp 305,188 juta, administrasi sebesar Rp 298,46 juta, dan pendapatan lain-lain sebesar Rp 3,17 juta.
Pada perdagangan hari ini pukul 13.30 WIB, harga saham VTNY turun 1,96% atau 2 poin ke level 100. Dalam waktu satu pekan terakhir, harga sahamnya melandai 6,54% dan turun 41,18% sejak awal tahun.