Debut Sutradara yang Penuh Kreativitas dan Visi
Setelah lama dikenal sebagai komika dan aktor, Kristo Immanuel akhirnya mendapat kesempatan untuk menyutradarai film panjang pertamanya. Bersama sang istri, Jessica Tjiu, ia menciptakan film berjudul Tinggal Meninggal. Film ini bukan hanya menjadi debutnya sebagai sutradara, tetapi juga menjadi wadah di mana ide-ide, suara, dan keresahan yang selama ini mengendap di kepalanya bisa tumpah secara bebas.
Proses pembuatan film ini dirancang hingga detail terkecil. Kristo mempersiapkan segalanya dengan matang sebelum syuting dimulai. Ia membuat storyboard selama setahun sebelum proses produksi dimulai. Dari denah kantor hingga bentuk meja dan urutan penempatannya, semuanya telah dipikirkan dengan cermat. Bahkan, ia menggunakan mainan miniatur untuk simulasi blocking aktor agar semua pihak memahami arah visual yang ingin dicapai.
Kerja sama dengan tim sangat penting dalam proses ini. Meski sebagian besar latar film berada di kantor, tantangan utama bagi Kristo adalah menjelaskan konsep yang ia miliki kepada kru. Ia mengatakan bahwa sulitnya terletak pada penyamaan visi antara dirinya dan kru. Untuk menghindari miskomunikasi, Kristo bahkan menyunting mock-up versi awal film berdurasi 1,5 jam. Mock-up ini menggunakan footage tes lokasi dan mainan lego sebagai pemeran miniatur. Video ini ditonton bersama kru agar semua pihak memiliki pemahaman yang sama.
ADHD Bukan Hambatan, Tapi Kekuatan
Dalam proses pembuatan film, Kristo menunjukkan bahwa totalitas bukan hanya tentang ambisi, tetapi juga tentang bagaimana ia mengolah cara berpikir kreatifnya. Salah satu faktor yang membantunya adalah kondisi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Bagi Kristo, pikirannya yang tak pernah diam justru menjadi bahan bakar untuk menciptakan dunia film yang rinci dan hidup.
Aktris utama film, Nirina Zubir, menyebutkan bahwa Kristo sangat teliti dalam mengurus hal-hal kecil. “Segala perintilan dia diurusin gitu, tapi dalam artian yang baik,” ujar Nirina. Menurutnya, apa yang dilakukan Kristo adalah bukti bahwa kekurangan atau kondisi tertentu dalam diri seseorang bisa diarahkan menjadi kekuatan, selama dikelola dengan tepat.
Salah satu contoh nyata dari penggunaan ADHD dalam proses kreatif Kristo adalah konsep visual film. Tokoh utama Tinggal Meninggal, Gema, sering kali berbicara langsung ke kamera. Teknik breaking the fourth wall ini bukan hanya gaya, tetapi cara Kristo menampilkan dunia batin Gema. Adegan ini merupakan representasi ekstrem dari dirinya sendiri.
Kristo menjelaskan bahwa orang dengan ADHD atau ADD tidak pernah berhenti berpikir. “Isi kepalaku enggak berhenti berpikir, jadi kami tidak ada waktu istirahat, berhenti saat tidur doang,” ujarnya. Teknik ini membuat penonton merasa diajak masuk ke dalam kepala Gema, menyaksikan percakapan internal yang penuh suara.
Proses Syuting yang Lancar Tanpa Drama
Dengan cara kerja pikirannya yang berbeda, film ini lahir dengan visi yang kuat dan imajinasi personal. Hasilnya, proses syuting berjalan lancar tanpa drama besar ataupun overtime. Kristo berhasil mengubah perbedaan menjadi kekuatan yang mampu menghasilkan karya yang unik dan menarik.
Film Tinggal Meninggal karya Kristo Immanuel akan mulai tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025. Dengan pendekatan kreatif dan visi yang jelas, film ini diharapkan menjadi awal yang menjanjikan bagi karier Kristo sebagai sutradara.