Prediksi Pergerakan Pasar Keuangan Global dan Stimulus Ekonomi dalam Negeri
Pasar keuangan global pekan ini diprediksi akan bergerak dengan penuh kehati-hatian, seiring fokus investor terhadap keputusan kebijakan suku bunga dari tiga bank sentral utama, yaitu Federal Reserve (The Fed), Bank of Japan (BOJ), dan Bank Indonesia (BI). Prediksi ini didasarkan pada berbagai faktor ekonomi yang sedang berkembang.
The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, terdorong oleh data pelemahan pasar tenaga kerja di AS. Meski demikian, kekhawatiran akan tingkat inflasi yang masih tinggi membuat pasar tetap waspada terhadap potensi kebijakan moneter yang lebih berhati-hati dalam jangka menengah. Sementara itu, Bank of Japan dan Bank Indonesia diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuannya. Sikap wait and see ini mencerminkan kehati-hatian kedua bank sentral dalam merespons dinamika ekonomi global serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi domestik.
Respons Positif terhadap Paket Stimulus 2025-2026
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut ditopang oleh peluncuran paket stimulus ekonomi pemerintah untuk periode 2025–2026. Paket stimulus ini mencakup berbagai inisiatif strategis, seperti percepatan belanja sosial, insentif perpajakan, dukungan untuk sektor ketenagakerjaan, serta program penguatan sektor perumahan, perikanan, dan perkebunan. Stimulus tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat, mendorong penciptaan lapangan kerja, serta memacu transformasi struktural melalui peningkatan kapasitas produksi dan nilai tambah sektor riil. Pelaku pasar memandang positif kebijakan ini, terutama terhadap saham-saham di sektor konstruksi, konsumsi, dan keuangan yang dinilai akan menjadi penerima manfaat utama.
Namun, pasar juga mencermati potensi dampak fiskal dari stimulus tersebut. Meskipun pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga disiplin anggaran, risiko pelebaran defisit tetap menjadi pertimbangan yang bisa menahan euforia pasar.
Gelontoran Stimulus Tidak Akan Menambah Defisit
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit APBN 2025 tidak akan melebar meski pemerintah mengucurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp16,23 triliun. Menurutnya, anggaran tersebut sudah tersedia sehingga tidak perlu mencari sumber pembiayaan baru yang berisiko menambah defisit. Ia menambahkan, pemerintah masih memiliki Sisa Anggaran Lebih (SAL) lebih dari Rp400 triliun. Oleh karena itu, penggunaan sebagian anggaran negara untuk stimulus ekonomi merupakan langkah optimalisasi penggunaan anggaran, bukan penambahan belanja baru yang berpotensi memperlebar defisit.
Rincian Stimulus yang Digelontorkan untuk Tahun Ini dan Tahun Depan
Rincian Program Stimulus Ekonomi 2025 mencakup beberapa program penting:
- Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi: Diberikan kepada 20.000 penerima manfaat dengan anggaran Rp198 miliar.
- Perluasan PPh 21 Ditanggung Pemerintah (DTP): Diberikan selama 3 bulan bagi 552.000 pekerja sektor pariwisata dengan anggaran Rp120 miliar.
- Bantuan Pangan: Diberikan kepada 18,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dengan total anggaran Rp7 triliun.
- Bantuan Iuran JKK dan JKM: Diberikan kepada 731.361 pekerja bukan penerima upah (BPU) dengan anggaran Rp36 miliar.
- Program Manfaat Layanan Tambahan Perumahan BPJS Ketenagakerjaan: Untuk 1.050 unit dengan anggaran Rp150 miliar.
- Padat Karya Tunai (cash for work): Merekrut 609.465 pekerja dengan anggaran Rp3,5 triliun (Kementerian PUPR) dan Rp1,8 triliun (Kemenhub).
- Percepatan Deregulasi PP No. 28: Melalui integrasi sistem kementerian/lembaga dan RDTR digital ke OSS di 50 daerah pada 2025, dilanjutkan 300 daerah di 2026 dengan anggaran Rp175 miliar.
Selain itu, empat program paket ekonomi akan dilanjutkan pada 2026, seperti:
- PPh Final 0,5 persen UMKM: Diperpanjang hingga 2029 dengan target 542 ribu wajib pajak UMKM.
- PPh 21 DTP Pariwisata: Tetap berlaku dengan estimasi Rp480 miliar/tahun.
- PPh 21 DTP Padat Karya: Menyasar 1,7 juta pekerja dengan anggaran Rp800 miliar.
- Diskon JKK & JKM BPU: Diperluas ke 9,96 juta pekerja informal dengan anggaran Rp753 miliar.
Strategi Bank Indonesia Mendukung Program Asta Cita Presiden
Bank Indonesia juga memiliki lima strategi untuk mendukung program Asta Cita Presiden. Selain itu, The Fed membuka peluang penurunan suku bunga, yang akan menjadi perhatian utama pasar keuangan global.