Perubahan Kabinet dan Dampaknya pada Yield SBN
Pergantian menteri keuangan di Indonesia menyebabkan pergerakan signifikan pada yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun. Setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan reshuffle kabinet, termasuk penggantian menteri keuangan, pasar obligasi langsung menunjukkan respons terhadap perubahan tersebut.
Mengutip data dari Bloomberg, yield SBN tenor 10 tahun pada hari Selasa (9/9) mencapai 6,53%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan level sebelumnya, yaitu 6,45% pada hari Selasa (2/9). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan ketidakpastian di kalangan investor.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menjelaskan bahwa reaksi pasar terhadap pergantian menteri keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa mencerminkan kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal. Ia menyebutkan bahwa yield SBN 10 tahun naik menjadi 6,44% pada 9 September, meningkat 6 bps dari sehari sebelumnya. Meski demikian, ia menilai tekanan ini belum mencerminkan perubahan fundamental, melainkan lebih sebagai faktor sentimen jangka pendek.
Menurut Josua, beberapa faktor akan memengaruhi pergerakan yield SBN hingga akhir 2025. Pertama, sikap menteri keuangan baru terhadap disiplin fiskal dan pelaksanaan RAPBN 2026. Apakah defisit tetap terkendali di sekitar 2,5% PDB atau melebar. Kedua, arah kebijakan Bank Indonesia yang diperkirakan masih akan menurunkan suku bunga secara bertahap pada kuartal IV – 2025, bergantung pada stabilitas rupiah dan arus modal. Ketiga, kondisi eksternal seperti arah suku bunga The Fed yang masih dalam tren turun, serta harga komoditas global yang mempengaruhi neraca perdagangan. Terakhir, potensi capital outflow akibat sentimen politik domestik masih akan menjadi risiko utama.
Ia memperkirakan yield SBN 10 tahun rata-rata berada di kisaran 6,3% – 6,5% pada akhir 2025, sejalan dengan asumsi defisit fiskal tetap terkendali dan inflasi bergerak dalam target. Meskipun ada risiko pelebaran defisit 2026 karena percepatan belanja, Josua menilai cadangan fiskal dan buffer pembiayaan masih cukup kuat sehingga risiko menembus 3% defisit PDB dianggap kecil.
Secara relatif, Josua menilai SBN Indonesia masih menarik karena menawarkan real yield yang cukup tinggi dibanding negara peers. Yield SBN 10 tahun 6,4% masih jauh di atas yield obligasi 10 tahun di kawasan seperti Malaysia (3,4%) atau Thailand (1,2%). Dengan inflasi rendah sekitar 2%, Indonesia masih memberikan imbal hasil riil yang positif.
Namun, Josua menyebut pasar akan lebih berhati-hati karena faktor pergantian Menkeu ini meningkatkan persepsi risiko politik dan kredibilitas fiskal. Jika Menkeu baru berhasil menunjukkan kesinambungan kebijakan dan disiplin anggaran, investor asing akan kembali masuk. Sebaliknya, bila komunikasi tidak konsisten, risiko outflow bisa menahan penurunan yield lebih lanjut.
David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), juga menyampaikan bahwa investor mulai menimbang kembali alokasi aset mereka pasca reshuffle kabinet. Prospek jangka panjang tergantung dari persepsi pasar terhadap disiplin fiskal pemerintah serta kondisi global seperti laju pemotongan suku bunga Fed.
David menyebut beberapa faktor yang memengaruhi yield SBN hingga akhir tahun, antara lain laju pemotongan suku bunga BI dan the Fed, kondisi fiskal pemerintah, tingkat inflasi, serta yield obligasi negara emerging market lain. Ia menilai SBN Indonesia masih memberikan yield yang menarik. Proyeksi yield SBN 10 tahun dapat turun ke level 6,32%.