Kesehatan Fisik dan Mental Mahasiswa dalam Aksi Sosial

Demo mahasiswa menuntut 17+8 menjadi momentum penting untuk koreksi bangsa Indonesia, tetapi juga mengungkap sisi lain yang sering diabaikan: kesehatan fisik dan mental para peserta aksi. Di tengah semangat perjuangan, banyak hal yang terlewat, termasuk risiko kesehatan yang bisa muncul akibat kegiatan sosial ini.

Risiko Fisik yang Nyata

Aksi massa seperti demo 17+8 membutuhkan ketahanan fisik yang luar biasa. Mahasiswa harus berdiri lama, berdesak-desakan, bahkan berlari menghindari gas air mata. Paparan gas air mata dapat memicu iritasi mata, batuk, sesak napas, dan memperparah penyakit asma. Penelitian dari WHO mencatat bahwa paparan berulang gas air mata dapat menyebabkan gangguan pernapasan jangka panjang bila tidak ditangani dengan baik.

Salah satu contoh nyata adalah Raka (nama samaran), seorang mahasiswa tingkat akhir dari Surakarta yang ikut aksi di depan Gedung DPR. Ia mengalami kehilangan kesadaran beberapa menit karena menghirup gas air mata terlalu banyak. Setelah cuci muka sebentar, ia ditarik ke trotoar dan harus dirawat di posko medis darurat selama satu jam sebelum kembali pulih. Kisah Raka hanyalah salah satu dari ratusan cerita mahasiswa lain yang mengalami sesak napas, luka memar, atau patah tulang akibat bentrokan.

Beban Mental yang Sering Terlupakan

Tekanan psikologis tak kalah berat juga. Demonstrasi yang berujung bentrok dapat meninggalkan trauma, rasa takut, bahkan gejala post-traumatic stress disorder (PTSD). Penelitian di University of California menemukan bahwa partisipan aksi protes dengan paparan kekerasan lebih rentan mengalami insomnia, mimpi buruk, dan kecemasan berkepanjangan.

Seorang mahasiswi dari Semarang, yang meminta namanya disamarkan, mengaku tidak bisa tidur selama dua malam setelah menyaksikan temannya dipukul aparat. Setiap ia memejamkan mata, ia merasa mendengar teriakan temannya lagi. Kondisi seperti ini, bila tidak mendapatkan dukungan psikologis, dapat menurunkan motivasi belajar, memicu depresi, dan mengganggu kesehatan mental jangka panjang.

Upaya untuk Menjaga Kesehatan

Gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat merupakan sinyal kuat bahwa generasi muda peduli pada masa depan bangsa Indonesia. Namun semangat itu harus diimbangi dengan upaya menjaga kesehatan. Organisasi mahasiswa dapat memastikan ketersediaan air minum, masker, dan tim medis lapangan di setiap aksi, sekaligus mengedukasi peserta tentang cara menghadapi paparan gas air mata dan memberikan pertolongan pertama.

Kampus dan lembaga layanan kesehatan mental juga perlu membuka hotline atau klinik konseling gratis bagi mahasiswa yang mengalami trauma setelah aksi, sehingga mereka memiliki ruang aman untuk memulihkan diri. Pemerintah dan aparat keamanan pun memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya, yakni menjaga agar aksi tidak berubah menjadi tragedi.

Demokrasi Butuh Tubuh yang Sehat

Demo tuntutan 17+8 bukan hanya tentang menuntut perbaikan DPR, partai politik, TNI, Polri, atau kebijakan ekonomi. Namun, ia merupakan momen pembelajaran demokrasi kolektif. Namun demikian, demokrasi hanya bisa berjalan jika para pengusungnya sehat, baik jasmani maupun rohani.

Kisah Raka (nama samaran) dan mahasiswi dari Bandung menjadi pengingat bahwa perjuangan politik tidak boleh merenggut kesehatan generasi muda. Momentum ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa menjaga kesehatan mahasiswa sama pentingnya dengan menjaga kesehatan demokrasi. Jika bukan kita yang akan menyuarakan semua ini, mau siapa lagi?

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *