Peran Green Jobs dalam Membangun Ekonomi Berkelanjutan
Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, berbagai sektor mulai beralih menuju arah yang lebih berkelanjutan, termasuk di dunia kerja. Konsep green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan kini mulai mendapat perhatian di Indonesia sebagai solusi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sambil menjaga kelestarian alam. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menekankan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan dunia kerja masa depan, terutama dalam bidang green jobs. Hal ini selaras dengan visi besar negara yaitu Indonesia Emas 2045, di mana Indonesia akan menjadi negara maju dan masuk lima besar kekuatan ekonomi dunia.
Menurut Yassierli, green jobs diperkirakan akan semakin dominan dalam struktur ketenagakerjaan pada 2045. Namun, masih banyak perguruan tinggi yang belum menyiapkan kurikulum yang mendukung lahirnya tenaga kerja dengan kompetensi hijau. Ia menegaskan bahwa green jobs adalah pekerjaan yang berkontribusi melestarikan atau memulihkan lingkungan melalui tugas khusus, keterampilan tertentu, penerapan proses ramah lingkungan, maupun menghasilkan output ramah lingkungan.
Yassierli juga mengingatkan generasi muda, terutama mahasiswa, untuk terus mengasah diri melalui literasi dan pembelajaran berkelanjutan. “Tantangan masa depan tidak bisa kita prediksi secara pasti. Karena itu, kunci utamanya adalah belajar,” ujarnya. Ia menekankan bahwa semangat belajar sepanjang hayat adalah bekal utama menghadapi perubahan.
Pendidikan vokasi dinilai memiliki peran sentral dalam menyiapkan SDM unggul yang mampu bersaing di era ekonomi hijau. Dengan dukungan kebijakan, pelatihan, dan ekosistem yang tepat, Indonesia diyakini mampu memperbesar transisi tenaga kerja menuju green jobs sekaligus mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan. Pengembangan green jobs dan green skills kini menjadi prioritas pemerintah dalam menciptakan ekosistem kerja yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Strategi Pemerintah dalam Mengembangkan Green Jobs
Pemerintah telah merancang beberapa strategi untuk mendorong pengembangan lapangan kerja hijau yang kian dibutuhkan oleh industri. Pertama, dengan mentransformasi Balai Latihan Kerja (BLK) dan merancang kurikulum bersama industri. Upaya ini diharapkan dapat menyelaraskan program pelatihan kejuruan secara langsung dengan permintaan industri, sembari memastikan relevansi dengan teknologi dan praktik ramah lingkungan yang sedang berkembang.
Strategi selanjutnya adalah meningkatkan kemampuan instruktur di balai pelatihan. Ini dilakukan dengan membekali pelatih dengan pengembangan profesional berkelanjutan dan pengalaman industri, sehingga mereka dapat memberikan pelatihan keterampilan mutakhir. Selain itu, Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) diharapkan mampu memperkenalkan model pelatihan langsung dan eksperiensial yang memungkinkan peserta menerapkan pengetahuan dalam proyek nyata, menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik di tempat kerja.
Langkah lainnya adalah Talent and Innovation Hub BLK dengan mengubah fasilitas BLK menjadi pusat keunggulan yang mempromosikan komunitas praktik, mendorong inovasi, dan membina generasi green professionals berikutnya. Gerakan Produktivitas Nasional (GPN) juga memiliki peran penting dalam mendorong produktivitas lintas sektor melalui keterlibatan pemerintah, industri, dan akademisi. Pengembangan talenta produktivitas untuk industri menjadi sorotan untuk memperkuat jalur profesional yang dapat memimpin proyek produktivitas dan keberlanjutan di tingkat perusahaan.
Potensi dan Tantangan dalam Pengembangan Green Jobs
Dalam peta jalan pengembangan tenaga kerja hijau Indonesia, diperlukan pelibatan penyesuaian sistem pendidikan dan pelatihan vokasi, peningkatan investasi pada sektor-sektor prioritas, serta perluasan peluang kerja hijau bagi kelompok rentan dan perempuan. Selain itu, pentingnya kemitraan dengan sektor swasta, perguruan tinggi, dan lembaga internasional untuk mempercepat penguatan sumber daya tenaga kerja hijau.
Menurut Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, jumlah tenaga kerja hijau akan mencapai 4 juta orang pada 2025 dan berpotensi meningkat menjadi 5,3 juta orang pada 2029. “Mayoritas tenaga kerja Indonesia berpotensi bertransformasi menjadi tenaga kerja hijau dengan dukungan pelatihan, teknologi, dan kebijakan yang tepat,” katanya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan terciptanya 1,7 juta lapangan kerja baru dalam 10 tahun ke depan, dengan lebih dari 760.000 di antaranya merupakan green jobs. Sektor pembangkitan diproyeksikan menyerap 836.000 tenaga kerja dengan lebih dari 91% di antaranya merupakan lapangan kerja hijau. Peluang ini akan tersebar di pembangkit tenaga surya, hidro, pumped storage, angin, panas bumi, biomassa, biogas hingga pembangkit tenaga laut.
Tantangan dalam Membangun Green Jobs
Meski potensi besar, pengembangan green jobs di Indonesia masih menghadapi tantangan. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam berpendapat kebutuhan tenaga kerja hijau semakin meningkat, namun harus dibarengi dengan penambahan kurikulum dalam tingkat pendidikan. Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian di bidang industri hijau.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai skill gap masih besar karena jurusan pertambangan dan perminyakan masih membuka murid secara besar-besaran. Padahal, industri fossil sedang turun dan ke depan green jobs yang lebih dibutuhkan. Selain itu, tenaga pengajar masih belum banyak tersedia di jurusan spesifik green jobs. Insentif bagi tenaga pengajar di bidang energi terbarukan misalnya masih kecil, bahkan tidak ada. Kemudian, upaya reskilling dan upskilling pekerja di sektor ketenagalistrikan juga terbatas.
Manajer Advokasi Kebijakan Koaksi Indonesia A Azis Kurniawan menuturkan 91% dari 836.696 tenaga kerja di subsektor pembangkitan termasuk dalam kategori green jobs. Hal ini menjadi peluang besar dalam mendukung transisi energi, namun juga menggarisbawahi pentingnya kesiapan tenaga kerja nasional. Studi terbaru Koaksi Indonesia bersama BOI Research mengungkap bahwa 76% anak muda tertarik bekerja di sektor yang berdampak positif terhadap lingkungan. Namun, mereka kerap terhambat oleh kurangnya informasi, pelatihan, akses, serta dukungan kebijakan yang memadai, membuat kesiapan keterampilan menjadi tantangan utama.
Kesimpulan
Green jobs bukan hanya menjadi opsi masa depan dan peluang emas bagi angkatan kerja muda, melainkan kebutuhan masa kini. Dengan sinergi pemerintah, dunia usaha, dan sektor pendidikan, green jobs di sektor energi baru dan terbarukan dapat menjadi jalan bagi Indonesia menuju ekonomi berkelanjutan dan kesejahteraan rakyat yang lebih merata. Prinsip keadilan sosial harus menjadi dasar agar transisi energi tidak memperlebar ketimpangan. Green jobs bisa menjadi jembatan menuju ekonomi hijau jika dirancang secara terencana, terukur, inklusif, adil, dan berkelanjutan.