Kredit UMKM di Separuh Pertama 2025 Masih Tertekan
Tahun 2025 sudah memasuki separuh perjalanannya, namun penyaluran kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan. Pertumbuhan kredit pada sektor ini tetap berada di kisaran 2%, yang tidak menunjukkan adanya perbaikan signifikan.
Berdasarkan data uang beredar Bank Indonesia (BI) pada Juni 2025, pertumbuhan kredit UMKM hanya mencapai 2%. Pada Januari 2025, pertumbuhan kredit UMKM sempat mencapai 2,5% secara tahunan (YoY). Namun, angka tersebut tidak terus meningkat hingga bulan-bulan berikutnya.
Kondisi paling memprihatinkan terjadi pada segmen usaha mikro. Kredit untuk usaha mikro justru mengalami penurunan sebesar 2,5% YoY, dengan penurunan sebelumnya sebesar 1,9% YoY. Padahal, kredit mikro mendominasi total kredit UMKM, yaitu sebesar Rp 621,2 triliun dari total kredit UMKM sebesar Rp 1.404 triliun.
Di sisi lain, kredit untuk segmen usaha kecil menunjukkan pertumbuhan yang cukup positif. Kredit usaha kecil berhasil tumbuh sebesar 10,5% YoY menjadi Rp 478,1 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku UMKM dengan skala lebih besar masih mampu bertahan dan bahkan berkembang.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengungkapkan bahwa kredit UMKM di separuh pertama 2025 masih dipenuhi ketidakpastian. Meskipun demikian, Maybank Indonesia mampu mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11% YoY, dengan total kredit mencapai Rp 25 triliun.
Menurutnya, ketidakpastian ini berasal dari berbagai faktor, seperti situasi geopolitik, kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintah AS, serta suku bunga kredit yang tinggi. Akibatnya, banyak pelaku UMKM memilih untuk bersikap lebih konservatif dan menunda ekspansi bisnis mereka.
“Bagi pelaku UMKM yang menggunakan dana bank, lebih baik bersikap konservatif sambil menunggu kejelasan dan perbaikan daya beli,” ujar Steffano.
Ia optimis bahwa ada potensi perbaikan untuk kredit UMKM di semester kedua 2025. Penurunan suku bunga acuan BI dan stimulus tambahan dari pemerintah dapat memberikan dampak positif terhadap sektor ini. Selain itu, ia juga melihat potensi pertumbuhan UMKM jika tren pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin meningkat. Masyarakat yang terdampak PHK bisa menjadi penggerak baru bagi UMKM.
Namun, tidak semua orang memiliki modal atau keterampilan yang cukup untuk memulai usaha. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan lembaga keuangan dalam mendukung pertumbuhan UMKM.
Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi domestik saat ini masih dibayangi oleh beberapa tantangan, salah satunya adalah melemahnya daya beli masyarakat. Hal ini turut memengaruhi omzet UMKM, sehingga mengurangi permintaan pembiayaan dari sektor tersebut.
Di BSI sendiri, pertumbuhan pembiayaan untuk UMKM masih dalam tren positif. Perseroan memilih untuk selektif dalam menyalurkan pembiayaan kepada UMKM yang sehat dan berkualitas. Hingga Maret 2025, BSI telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 52,5 triliun kepada UMKM. Angka ini meningkat sebesar 12,63% dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, BSI mencatatkan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) sebesar Rp 98,15 triliun atau 34,27% dari total portofolio.
Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah BPD DIY, Raden Agus Trimurjanto, menyampaikan bahwa UMKM di daerahnya sangat bergantung pada kehadiran wisatawan. Sayangnya, daya beli masyarakat sedang menurun, sehingga berdampak pada penurunan jumlah wisatawan dan akhirnya mengurangi omzet UMKM.
“Ini berdampak pada kesempatan tumbuh atau menghambat munculnya usaha-usaha kecil baru,” ujar Agus.
Pertumbuhan kredit UMKM di Bank BPD DIY per Juni 2025 tercatat naik sebesar 5% YoY menjadi Rp 3,78 triliun. Kredit mikro tumbuh paling besar, yaitu sebesar 11,5% menjadi Rp 2,03 triliun.
Agus menambahkan bahwa diperlukan peningkatan belanja pemerintah agar dapat memengaruhi peredaran uang dan ekonomi secara keseluruhan, sehingga memberikan dampak multiplier terhadap UMKM. Di samping itu, peran bank juga penting dalam memberikan kemudahan dan kecepatan dalam pemberian kredit serta memanfaatkan digitalisasi.