Kepadatan di Stasiun Duri Membuat Perpindahan Penumpang Menjadi Tantangan

Stasiun Transit Duri di Tambora, Jakarta Barat, menjadi salah satu titik transit yang paling sibuk setiap hari. Setiap pagi dan sore, ratusan bahkan ribuan penumpang berdatangan ke stasiun ini untuk bermacam tujuan. Meskipun tidak sebesar stasiun seperti Manggarai, Tanah Abang, atau Jatinegara, kondisi di Stasiun Duri tetap terasa padat dan menimbulkan beberapa keluhan dari pengguna.

Fasilitas yang tersedia seperti tangga, lift, dan eskalator dinilai masih kurang memadai. Setiap peron hanya memiliki satu eskalator dan satu tangga manual. Di Peron 1 dan 2, ada satu lift yang bisa digunakan sebagai alternatif. Namun, dalam jam sibuk, antrean di eskalator seringkali mengular hingga ke belakang. Hal ini membuat perpindahan antarperon menjadi lebih rumit.

Pada jam sibuk, penumpang cenderung berlari menuju eskalator untuk segera melanjutkan perjalanan. Namun, karena hanya dua orang yang bisa melewati eskalator dalam satu waktu, arus sering terhambat. Petugas keamanan sering memberi imbauan agar penumpang menggunakan sisi kanan untuk berjalan dan sisi kiri untuk berdiri. Namun, banyak penumpang yang tidak mengindahkan aturan tersebut, sehingga situasi menjadi semakin memburuk.

Antrean Panjang dan Kesulitan Berpindah

Saat dua kereta tiba bersamaan di jalur 1 dan 2, penumpang langsung bergegas turun dan mencari jalan ke eskalator. Beberapa dari mereka bahkan berlari untuk mendahului. Di area stasiun atas, antrean kembali terbentuk ketika penumpang ingin berpindah ke Peron 5. Banyak penumpang memilih menggunakan tangga daripada menunggu eskalator, meski kereta tujuan Tangerang belum tiba.

Proses perpindahan dari Peron 1 dan 2 ke Peron 5 memakan waktu sekitar enam hingga tujuh menit hanya dengan menggunakan eskalator. Di sisi lain, antrean panjang juga terjadi di Peron 5 saat kereta tiba. Penumpang yang turun harus berdesak-desakan dengan mereka yang ingin naik. Banyak penumpang kembali berlari ke eskalator yang mengarah ke Peron 1 dan 2, sementara sebagian lainnya memilih tangga karena lelah.

Penggunaan Lift untuk Lansia

Beberapa lansia memilih menggunakan lift untuk turun ke Peron 1 dan 2. Namun, lift jarang digunakan oleh penumpang umum. Banyak penumpang tetap memilih antre di depan eskalator, bahkan sampai ke dekat toilet. Lift hanya mampu menampung 8–10 orang dalam satu kali perjalanan, sehingga diperlukan tiga kali giliran untuk bisa masuk. Saat penumpang keluar dari lift, antrean di depannya otomatis terbelah, tetapi dorongan dari belakang tetap terasa.

Proses perpindahan menggunakan lift memakan waktu sekitar enam menit, termasuk waktu menunggu. Setelah itu, penumpang harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan ke eskalator menuju Peron 5, yang membutuhkan tambahan waktu sekitar empat menit.

Headway yang Lama di Siang Hari

Di siang hari, frekuensi kedatangan kereta ke Peron 5 lebih jarang dibandingkan jam sibuk. Penumpang tujuan Tangerang harus menunggu kereta datang setiap 25–30 menit. Selama masa tunggu, arus penumpang terus berdatangan dan mengisi peron. Ketika kereta tiba, penumpang bergegas masuk ke gerbong, setelah memberi jalan kepada penumpang yang turun. Perebutan tempat duduk pun tak terhindarkan.

Harapan Masyarakat untuk Perluasan Stasiun

Dengan kondisi yang selalu padat, warga mengharapkan Stasiun Duri diperluas seperti Stasiun Tanah Abang yang kini memiliki kapasitas besar. Awen, warga Kabupaten Tangerang, menyatakan bahwa perluasan stasiun akan membuat penumpang merasa lebih nyaman. Ia juga berharap jalur kereta komuter dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Kabupaten Tangerang.

Frans, penumpang lainnya, sepakat dengan harapan tersebut. Ia menilai perluasan stasiun dan penambahan fasilitas sangat dibutuhkan agar arus penumpang tidak terpusat dan menumpuk di satu titik. Ia juga mengeluhkan situasi di Peron 5, di mana penumpang prioritas seperti lansia harus berdesakan dengan penumpang umum.

Stasiun Duri Akan Direvitalisasi

Menanggapi kondisi ini, Direktur Utama KAI Commuter Asdo Artriviyanto menyatakan bahwa Stasiun Duri akan masuk dalam daftar stasiun yang direvitalisasi. “Stasiun Duri walaupun sudah dibangun oleh DJKA, tapi kapasitasnya sekarang semakin hari semakin padat, nah ini kita usulkan,” ujar Asdo dalam acara Capaian Kinerja Semester I-2025 KAI Commuter di Jakarta. Revitalisasi akan difokuskan pada penambahan kapasitas dan fasilitas untuk mendukung mobilitas penumpang harian.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *