Proyeksi Penguatan IHSG di Tengah Kebijakan dan Sentimen Global
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menguat pada pekan ini. Proyeksi ini didorong oleh dua katalis utama, yaitu kebijakan The Fed yang lebih dovish serta suntikan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke bank-bank BUMN. Dalam penutupan perdagangan awal pekan, IHSG berhasil naik 83,06 atau 1,06 persen menjadi 7.937,12.
Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa keputusan suku bunga The Fed yang cenderung lebih dovish setelah data ketenagakerjaan AS melemah membuka peluang arus modal masuk kembali ke pasar-pasar berkembang. Hal ini juga menjaga momentum penguatan harga emas sebagai salah satu sektor defensif yang diminati investor. Jika suku bunga AS dipangkas, dolar AS kemungkinan akan melemah, sehingga mendorong harga emas naik.
Sentimen Domestik yang Mempengaruhi IHSG
Dari sisi domestik, pasar fokus pada kebijakan Kementerian Keuangan yang menempatkan dana Rp200 triliun di bank-bank BUMN untuk memperkuat likuiditas dan mendorong kredit sektor riil. Dana tersebut diharapkan memberi katalis positif bagi sektor perbankan. Selain itu, pemerintah meluncurkan program magang berbayar enam bulan bagi fresh graduate mulai kuartal IV-2025, sebagai upaya menjembatani pendidikan dengan kebutuhan industri.
Hari optimis bahwa IHSG akan terus menguat dan mencoba menguji resistance di level 8.000 dengan support di 7.650. Ia menjelaskan bahwa proyeksi penguatan ini terjadi setelah IHSG terkoreksi tajam -3,53 persen di awal pekan lalu akibat reshuffle Menkeu, dengan capital outflow asing hingga Rp6 triliun. Namun, sentimen positif dari kebijakan penyuntikan dana Rp200 triliun ke perbankan mendorong rebound +2,49 persen, sehingga sepanjang pekan IHSG hanya melemah -0,17 persen.
Pengaruh Sentimen Asing dan Domestik Terhadap IHSG
Pergerakan IHSG pekan lalu dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global dan domestik. Di tingkat global, peluang besar bahwa keputusan suku bunga AS pekan ini akan menjadi katalis utama pergerakan pasar global. Data ketenagakerjaan di AS yang melemah berpotensi mendorong The Fed mengambil sikap lebih dovish, sehingga memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dinamika ini penting dicermati karena akan mempengaruhi arus modal global dan sentimen investor. Dalam kondisi tersebut, aset safe haven seperti emas serta saham di sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga seperti perbankan hingga real estate diperkirakan akan mendapat perhatian lebih dari pelaku pasar.
Di sisi lain, sentimen dari domestik terkait dengan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menetapkan kebijakan penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke bank-bank BUMN untuk penyaluran kredit sektor riil. Rinciannya, Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing memperoleh Rp55 triliun, BTN Rp25 triliun, serta BSI Rp10 triliun. Dana tersebut ditempatkan dalam bentuk deposito on call dengan bunga sekitar 4 persen dan tenor enam bulan.
Rekomendasi IPOT Pekan Ini
Merespons dinamika pasar ini, IPOT memberikan tiga rekomendasi saham pekan ini yang bisa dipantau oleh trader maupun investor:
-
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)
Sektor perbankan berpotensi memperoleh katalis positif pada pekan depan, seiring kebijakan pemerintah terkait penempatan dana di bank-bank BUMN. Khususnya, saham BBTN menunjukkan tren uptrend setelah pada perdagangan Jumat lalu mencatat penguatan sebesar 4 persen. -
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
Sektor emas diproyeksikan masih berpotensi melanjutkan penguatan pada pekan ini, sejalan dengan tren harga emas global. Saham MDKA dapat menjadi salah satu pilihan menarik, didukung sentimen kenaikan harga emas serta rencana IPO anak usahanya EMAS. -
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
Sektor real estate berpotensi memperoleh sentimen positif dari kebijakan pemerintah yang menempatkan dana Rp200 triliun di perbankan, sehingga memberikan ruang lebih luas bagi penyaluran kredit, termasuk ke sektor properti, dengan potensi bunga yang lebih kompetitif.