Patahan di Jawa Barat dan Kehati-hatian terhadap Aktivitas Sesar Lembang

Di wilayah Jawa Barat, terdapat berbagai patahan atau sesar yang menjadi perhatian para ahli geologi. Salah satu yang sedang menjadi sorotan adalah Sesar Lembang, karena adanya peningkatan aktivitas seismik dalam beberapa bulan terakhir. Namun, tidak hanya Sesar Lembang yang menjadi fokus, ada banyak patahan lainnya yang melintasi wilayah ini.

Sesar atau patahan dalam istilah geologi didefinisikan sebagai bidang rekahan atau zona retakan pada kerak bumi di mana batuan di kedua sisi mengalami pergeseran relatif satu sama lain. Patahan terbentuk ketika lempeng tektonik bergerak, menyebabkan tekanan yang menumpuk di dalam batuan. Ketika tekanan melebihi kekuatan batuan, maka akan terjadi retakan dan energi yang dilepaskan secara tiba-tiba itu menyebabkan gempa bumi.

Ada tiga jenis utama patahan berdasarkan pergerakan relatifnya:

  • Sesar Normal: Terjadi ketika batuan di atas bidang patahan (hanging wall) bergerak turun relatif terhadap batuan di bawahnya (footwall). Biasanya disebabkan oleh gaya tarikan.
  • Sesar Naik: Terjadi ketika batuan di atas bidang patahan bergerak naik relatif terhadap batuan di bawahnya, disebabkan oleh gaya dorongan atau kompresi.
  • Sesar Geser: Terjadi ketika batuan di kedua sisi patahan bergerak secara horizontal. Contohnya adalah Sesar Lembang.

Di Jawa Barat sendiri, terdapat beberapa patahan penting yang aktif. Berikut adalah daftar patahan-patahan tersebut:

  1. Sesar Cimandiri

    Sesar ini membentang sepanjang sekitar 100 km dari Teluk Pelabuhan Ratu hingga Padalarang. Merupakan salah satu sesar tertua di Jawa Barat dengan pergerakan mendatar hingga miring.

  2. Sesar Lembang

    Terletak di utara Kota Bandung, sesar ini memiliki panjang sekitar 25-29 km. Sesar Lembang merupakan patahan geser mendatar yang terbagi menjadi beberapa segmen dan memiliki potensi gempa besar.

  3. Sesar Baribis

    Sesar terpanjang di Pulau Jawa, membentang dari timur ke barat. Jalurnya melintasi kota-kota padat penduduk seperti Jakarta, Bogor, dan Bekasi. Sesar ini merupakan sesar naik dan pernah menyebabkan gempa merusak.

  4. Sesar Garut Selatan (Garsela)

    Membentang sepanjang 42 km dari selatan Garut hingga selatan Bandung. Terbagi menjadi dua segmen, yaitu Rakutai dan Kencana, yang keduanya aktif.

  5. Sesar Citarik

    Membentang dari Palabuhanratu, melewati Gunung Salak, Bogor, hingga Bekasi. Dikenal dari kelurusan aliran Sungai Citarik dan masih aktif hingga kini.

  6. Sesar Cipamingkis

    Terletak di wilayah Sukabumi bagian timur hingga barat Cianjur. Pada tahun 2018, sesar ini memicu puluhan gempa kecil.

  7. Sesar Cileunyi-Tanjungsari

    Membentang dari Cileunyi, Kabupaten Bandung, hingga Tanjungsari, Sumedang. Diidentifikasi oleh Badan Geologi sejak 2008 dan diduga sebagai penyebab gempa Sumedang pada akhir 2023 hingga awal 2024.

  8. Sesar Cugenang

    Sesar lokal yang terletak di Kabupaten Cianjur dan merupakan penyebab utama gempa bumi Cianjur pada November 2022.

Peningkatan Seismik di Sesar Lembang

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan seismik di segmen barat Sesar Lembang dalam dua bulan terakhir, yaitu akhir Juni hingga pertengahan Agustus 2025. Rentetan gempa terjadi di wilayah Bandung Raya, termasuk gempa pertama pada 29 Juni 2025 dengan kekuatan 2,7 Skala Magnitudo. Gempa kembali terjadi pada 24 Juli 2025 dengan kekuatan 1,8 Skala Magnitudo, kemudian 14 Agustus 2025 dengan kekuatan 1,9 Skala Magnitudo, dan seterusnya.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa segmen barat Sesar Lembang mengalami peningkatan aktivitas seismik. Ia meminta masyarakat untuk waspada terhadap potensi gempa akibat pergerakan Sesar Lembang yang membentang 29 KM dari Padalarang sampai Cilengkrang. Menurut penelitian, aktivitas Sesar Lembang bisa memicu gempa dengan magnitudo mencapai 6,7 hingga 7,0.

Penjelasan Skala Magnitudo Gempa

Skala Magnitudo digunakan untuk mengukur energi yang dilepaskan gempa bumi. Berikut penjelasan tingkat magnitudo:

  • Magnitudo 1.0 – 1.9: Gempa Mikro, tidak terasa manusia.
  • Magnitudo 2.0 – 2.9: Gempa Sangat Kecil, bisa dirasakan oleh beberapa orang.
  • Magnitudo 3.0 – 3.9: Gempa Kecil, sering terasa di dalam ruangan.
  • Magnitudo 4.0 – 4.9: Gempa Ringan, terasa oleh hampir semua orang.
  • Magnitudo 5.0 – 5.9: Gempa Sedang, bisa menyebabkan kerusakan ringan.
  • Magnitudo 6.0 – 6.9: Gempa Kuat, dapat menyebabkan kerusakan besar.
  • Magnitudo 7.0 – 7.9: Gempa Besar, bisa menyebabkan kerusakan serius.
  • Magnitudo 8.0 – 8.9: Gempa Hebat, sangat merusak dan menghancurkan.
  • Magnitudo 9.0 ke atas: Gempa Dahsyat, sangat langka dan bisa menyebabkan kehancuran total.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *