Pemerintah India Berharap Penurunan Pajak Konsumsi Dapat Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah India mengumumkan rencana penurunan pajak konsumsi dalam pidato Perdana Menteri Narendra Modi, yang diharapkan dapat memberikan dorongan bagi perekonomian tanpa mengganggu defisit fiskal. Rencana ini juga bertujuan untuk mengimbangi kerugian akibat tarif impor yang lebih tinggi dari Amerika Serikat (AS).

Dalam pengumuman tersebut, pejabat di New Delhi menyatakan bahwa proposal pemangkasan pajak barang dan jasa akan memberikan manfaat bagi sejumlah sektor, termasuk konsumen dan usaha kecil. Meskipun penyesuaian ini diperkirakan memiliki dampak terbatas terhadap pendapatan negara, pemerintah tetap berupaya memastikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal.

IDFC First Bank Ltd. memperkirakan bahwa penurunan pajak konsumsi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,6 percentage point, sementara inflasi diprediksi akan turun antara 0,6 hingga 0,8 percentage point selama periode 12 bulan. Di sisi lain, Emkay Global Financial Services Ltd. memprediksi penurunan pendapatan negara sebesar 0,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Madhavi Arora, ekonom dari Emkay, menilai penyederhanaan struktur pajak GST sebagai langkah positif yang dapat meningkatkan konsumsi domestik. Ia menekankan bahwa beban pajak di India telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga perlu adanya reformasi.

Meskipun rencana penurunan pajak sudah dibahas selama bertahun-tahun, pengumuman dalam pidato Hari Kemerdekaan oleh PM Modi mengejutkan banyak pihak. Langkah ini diambil di tengah ancaman Presiden Donald Trump untuk menggandakan tarif ekspor India ke AS menjadi 50% pada 27 Agustus 2025, sebagai respons atas pembelian minyak India dari Rusia.

Modi menyatakan bahwa perekonomian perlu lebih mandiri, terutama di sektor-sektor strategis seperti energi, mineral, dan pertahanan. Pengumuman pajak ini muncul setelah S&P Global Ratings menaikkan peringkat negara India menjadi BBB, peningkatan pertama dalam 18 tahun. S&P menyatakan bahwa tarif Trump akan memiliki dampak yang terkendali terhadap perekonomian India yang didorong oleh konsumsi.

Pengeluaran oleh konsumen dan bisnis berkontribusi lebih dari 60% terhadap PDB India. Setelah Trump mengumumkan tarif 50% terhadap India, analis dari Citigroup Inc. memperkirakan risiko penurunan pertumbuhan sebesar 0,6-0,8 percentage point. Penurunan pajak konsumsi diharapkan dapat membantu meredam dampaknya.

Garima Kapoor, ekonom dari Elara Capital, menyatakan bahwa peningkatan konsumsi dapat mengurangi dampak skenario tanpa kesepakatan antara AS dan India. Selain itu, peningkatan peringkat S&P juga dapat meningkatkan daya tarik India sebagai tujuan investasi, terutama saat pertumbuhan sedang melambat.

Struktur Pajak GST yang Rumit dan Perubahan yang Diusulkan

India memiliki struktur pajak GST yang kompleks dengan empat kategori tarif utama, yaitu 5%, 12%, 18%, dan 28%. Perubahan yang diusulkan akan mengurangi jumlah kategori menjadi dua, dengan sebagian besar barang yang sebelumnya dikenakan pajak 12% dan 28% kini dikenakan pajak dengan tarif yang lebih rendah, masing-masing sebesar 5% dan 18%.

Sekitar dua pertiga pendapatan pemerintah dari GST berasal dari kategori pajak 18%, yang akan membatasi dampak pada kas fiskal akibat penyesuaian tersebut. Penurunan pendapatan negara dari pemangkasan pajak kemungkinan akan diimbangi oleh lonjakan belanja barang-barang kebutuhan pokok seperti pangan yang akan dikenakan pajak dengan tarif yang lebih rendah.

Proposal tersebut akan dibahas oleh panel menteri keuangan negara bagian, lalu diajukan kepada Dewan GST, yang diketuai oleh Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman, pada bulan September atau Oktober. Dewan GST memiliki keputusan akhir terkait perubahan tarif pajak. Para pejabat mengatakan perubahan tersebut akan dilaksanakan pada tahun keuangan saat ini.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *