Minat Masyarakat Terhadap Mobil Listrik Meningkat di GIIAS 2025
Pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 menjadi momen penting bagi para calon pembeli mobil listrik. Banyak orang yang memilih untuk meninjau dan mempertimbangkan mobil listrik sebelum membuat keputusan akhir. Salah satunya adalah Ayu Anatriera (37), seorang dokter yang akhirnya memutuskan untuk membeli mobil listrik setelah melihat berbagai rekomendasi dari teman-temannya.
Ayu mengungkapkan bahwa ia sudah lama ingin memiliki mobil listrik, terutama karena kepraktisan dalam penggunaan sehari-hari. “Saya ingin mobil listrik karena bebas ganjil-genap,” kata dia. Ia juga menjelaskan bahwa mobil bensin yang dimilikinya akan digunakan untuk perjalanan jarak jauh, seperti ke luar kota.
Dalam pameran tersebut, Ayu memilih BYD Atto 1 sebagai model yang sesuai dengan kebutuhannya. “Saya mendapatkan banyak rekomendasi dari teman-teman, dan mayoritas mereka menyukai BYD,” ujarnya. Ia juga mengatakan bahwa dirinya termasuk dalam kloter pertama pemesanan mobil tersebut dan akan menerima kendaraan tersebut pada Oktober mendatang.
Selain Ayu, Rahmat Jatiwaluyo (31) juga merasa tertarik untuk membeli mobil listrik setelah berkunjung ke stan BYD di GIIAS. Laki-laki asal Tangerang Selatan ini menjelaskan bahwa ia ingin mengganti mobil bensinnya dengan mobil listrik karena alasan biaya. “Dalam satu bulan saya menghabiskan sekitar Rp 2 juta hanya untuk bensin. Dengan mobil listrik, biaya nge-charger lebih murah,” katanya.
Rahmat juga mempertimbangkan kebijakan bebas ganjil-genap dan insentif pemerintah terkait pembelian mobil listrik. Ia sedang membandingkan antara BYD Atto 1 dan Chery TIGGO Cross. “Harganya cukup kompetitif, dan BYD memiliki reputasi yang baik,” ujar Rahmat.
BYD Atto 1 merupakan mobil listrik full battery electric vehicle (BEV) dengan harga mulai dari Rp 195 juta hingga Rp 235 juta. Sementara itu, Chery TIGGO Cross adalah tipe plug-in hybrid vehicle (PHEV) yang dibanderol lebih mahal, yaitu Rp 319,8 juta. Meskipun Chery TIGGO Cross masih menggunakan bahan bakar fosil, Rahmat tetap tertarik karena pengalamannya menggunakan motor listrik.
Menurut Rahmat, penggunaan motor listrik memberinya gambaran tentang infrastruktur mobil listrik. “Setelah punya motor listrik, saya tahu bahwa SPKLU cukup banyak, meskipun jenisnya berbeda-beda. Yang penting ekosistemnya bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Nailul Huda, menilai GIIAS 2025 memiliki potensi besar untuk meningkatkan penjualan mobil. Menurutnya, pameran ini menawarkan berbagai diskon dan promo yang menarik. “Pameran ini bisa menjadi harapan bagi produsen mobil untuk meningkatkan penjualan yang sedang lesu,” ujarnya.
Nailul menjelaskan ada dua kemungkinan mengenai daya beli masyarakat saat ini. Pertama, masyarakat mungkin menunda pembelian mobil untuk menunggu diskon yang tersedia di GIIAS. Kedua, lesunya penjualan mobil bisa disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat yang cenderung memilih mobil bekas daripada mobil baru.
Meski demikian, Nailul mengatakan bahwa peningkatan penjualan mobil di GIIAS tidak mustahil terjadi, meskipun tidak sebesar tahun lalu. Faktor ketidakpastian ekonomi menjadi salah satu penyebabnya. “Meskipun ada diskon besar-besaran, minat masyarakat terhadap mobil baru bisa tetap rendah jika daya beli mereka menurun,” ujarnya.