Peran ESG dalam Sektor Sawit dan Keterlibatan Petani serta Generasi Muda
Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor sawit dianggap sebagai langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah produk dan menarik investasi global. Tidak hanya perusahaan besar, petani kecil dan generasi muda juga menjadi aktor utama yang berperan dalam menjalankan agenda keberlanjutan ini.
Winda Adelita Saragih, Manager Stakeholder Sustainability PT Eagle High Plantations Tbk, menyatakan bahwa ESG kini bukan lagi sekadar kewajiban perusahaan, tetapi peluang untuk mendorong praktik bisnis berkelanjutan. Dalam diskusi bertema “ESG in Plantation Sector: Advancing Green Downstream for Economic Growth” dalam rangkaian Sustainable Action for The Future Economy (SAFE) 2025, ia menekankan bahwa penerapan ESG membuka akses pasar premium dan menarik investasi hijau yang semakin diminati konsumen global.
Namun, Winda menekankan bahwa agenda keberlanjutan tidak bisa dilepaskan dari peran petani kecil. Saat ini, terdapat sekitar 2,6 juta petani sawit yang menyumbang sekitar 40% produksi nasional. Menurutnya, mereka bukan pelengkap, tetapi aktor utama. Oleh karena itu, petani harus lebih dilibatkan, diberi akses pembiayaan hijau, dan dipermudah dalam memahami konsep keberlanjutan. Keberlanjutan harus terbukti menguntungkan bagi mereka di lapangan, bukan sekadar slogan.
Tantangan dalam Mengubah Budaya Bertani
Salah satu tantangan terbesar adalah mengubah budaya bertani tradisional menjadi praktik berkelanjutan. Meskipun sertifikasi seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) tersedia, banyak petani masih kesulitan memahami teknisnya. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, baik untuk pendampingan sertifikasi maupun membuka koneksi petani dengan pasar global.
Winda juga menyoroti peluang hilirisasi hijau yang dapat mendongkrak ekonomi, mulai dari biodiesel, bioavtur, bioplastik, hingga pembangkit listrik tenaga biogas dari limbah sawit. Ia menegaskan bahwa ketika hulu menguat, hilir mengikuti. Inovasi ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga kontribusi sosial dan lingkungan.
Peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP)
Di sisi lain, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memainkan peran strategis dalam mendukung transformasi ini. Melalui program litbang, kemitraan dengan UMKM, dan promosi produk hilir, BPDP mendorong lahirnya inovasi berbasis sawit. Beberapa produk hilir di antaranya adalah sandal dari limbah sawit, malam batik sawit ramah lingkungan, hingga pengembangan energi terbarukan.
Program BPDP membuktikan bahwa sawit berkelanjutan tidak hanya bicara ekspor, tetapi juga bisa menghadirkan nilai tambah langsung bagi masyarakat.
Pentingnya Peran Anak Muda
Aie Natasha, CEO Enable Project, menekankan pentingnya peran anak muda dalam memastikan keberlanjutan sawit. Menurutnya, literasi berkelanjutan harus menjadi “DNA” generasi muda agar mereka bisa menjadi konsumen cerdas dan kritis terhadap produk yang mereka gunakan.
Anak muda harus sadar bahwa dari bangun tidur sampai tidur lagi, banyak hal di sekitar kita yang berbahan sawit. Oleh karena itu, literasi ini penting, apalagi ke depan bonus demografi membuat generasi muda menjadi konsumen dominan.
Aie menambahkan bahwa kesenjangan pengetahuan masih tinggi, terutama antara anak muda di kota besar dan daerah. Media sosial dan institusi pendidikan, menurut Aie, adalah kanal efektif untuk memperluas pemahaman tentang sawit berkelanjutan.
Lebih jauh, Aie mendorong agar anak muda diberi ruang partisipasi nyata, tidak hanya sebagai eksekutor tetapi juga inovator. Ia menilai bahwa anak muda ini adalah tonggak kemajuan teknologi. Mereka bisa melahirkan riset dan inovasi baru, bukan sekadar mereplikasi. Transparansi data dari pemerintah dan perusahaan sangat penting agar pemuda bisa berkontribusi maksimal.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Generasi
Baik Winda maupun Aie sepakat bahwa transformasi sawit berkelanjutan membutuhkan gotong royong lintas sektor dan lintas generasi. Tanpa pasar yang menghargai produk berkelanjutan, upaya ini sulit berlanjut.
Di tahun keenam penyelenggaraannya, SAFE 2025 mengusung tema “Green for Resilience” sebagai respons atas krisis iklim dan dinamika global, serta menegaskan ekonomi hijau sebagai solusi strategis memperkuat ketahanan dan keberlanjutan pembangunan nasional.
Melalui forum tingkat tinggi, lokakarya, pameran interaktif, hingga kolaborasi seni, SAFE menjadi penggerak aksi nyata menuju masa depan ekonomi yang inklusif dan tangguh.