Peran Industri Kehutanan dalam Perekonomian dan Lingkungan di Riau
Industri kehutanan di Provinsi Riau terus menunjukkan kontribusi yang signifikan, baik dalam perekonomian daerah maupun menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Sebagai salah satu sektor utama, kehutanan tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Riau, Muller Tampubolon, menekankan bahwa sektor ini memiliki peran strategis dalam membangun perekonomian daerah serta menjaga lingkungan. Ia menyatakan bahwa selama tiga tahun terakhir, perusahaan-perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) telah memberikan kontribusi besar kepada negara melalui pajak bumi dan bangunan (PBB). Angka yang mencapai Rp318,56 miliar menunjukkan komitmen industri kehutanan dalam mendukung penerimaan negara.
Selain itu, perusahaan-perusahaan tersebut juga aktif dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan kemitraan dengan masyarakat sekitar hutan. Rata-rata alokasi CSR mencapai Rp80 miliar per tahun, sedangkan kemitraan dengan lebih dari 120 desa di sekitar kawasan operasional mencapai Rp35 miliar per tahun. Hal ini membuktikan bahwa industri kehutanan tidak hanya fokus pada profit, tetapi juga peduli terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.
Dari segi investasi, areal tanaman di Riau mencapai 1 juta hektare, dengan rata-rata 180.000 hektare dipanen setiap tahun. Investasi per hektare mencapai Rp20 juta, sehingga total investasi tahunan mencapai Rp3,3 triliun. Angka ini menunjukkan potensi besar yang dimiliki oleh sektor kehutanan di Riau.
Kolaborasi untuk Keberlanjutan Lingkungan
Kepala Bidang Penegakan Hukum Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau, Agus Suryoko, mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam menjaga kelestarian hutan. Ia menekankan bahwa hutan merupakan bagian penting dari sistem lingkungan hidup, dan perlu dikelola secara berkelanjutan agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan usaha di masa depan.
Salah satu program yang menunjukkan dampak positif adalah Program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) yang digagas Asia Pulp & Paper (APP). Program ini telah diimplementasikan di 206 desa dengan anggaran sebesar Rp26,05 miliar. Partisipasi masyarakat sangat tinggi, dengan lebih dari 14.214 kepala keluarga, 50 UMKM, 33 kelompok perempuan, serta 200 Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) terlibat.
Program DMPA membantu masyarakat mengembangkan alternatif mata pencaharian tanpa merusak alam. Salah satu pencapaian utama adalah penurunan kebakaran hutan hingga 90 persen di desa-desa yang berpartisipasi. Ini menunjukkan bahwa konservasi lingkungan bisa dilakukan bersamaan dengan pembangunan ekonomi.
Inovasi dalam Manajemen Hutan
PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), bagian dari APRIL Group, menegaskan komitmennya dalam menjalankan Sustainable Forest Management Policy 2.0 (SFMP) sejak 2015. Melalui kebijakan ini, perusahaan membatasi pengembangan hutan tanaman hanya di area bekas kebun yang telah dibuka sebelum Juni 2015. Selain itu, RAPP juga aktif dalam mengendalikan karhutla di seluruh konsesi mereka.
Melalui Restorasi Ekosistem Riau (RER), RAPP mengelola lebih dari 150.000 hektare hutan rawa gambut tropis di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang. Program ini telah melaksanakan berbagai riset, pencapaian, dan inisiatif komunitas dalam upaya konservasi. Salah satu keberhasilan besar pada 2024 adalah pencegahan penebangan liar, yang membuktikan bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat saling berkaitan.
Isu Strategis dalam Pengelolaan Hutan
Menjelang penutupan kegiatan, Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah III Pekanbaru, Fifin Arfiana Jogasara, menyoroti isu strategis dalam pengelolaan hutan. Salah satu tantangan utama adalah tumpang tindih atau overlay unit usaha yang telah mendapatkan izin. Kondisi ini dinilai sebagai salah satu penyebab rendahnya capaian produktivitas hasil hutan.
Fifin menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat. Skema perhutanan sosial dan partisipasi masyarakat yang sudah lama tinggal di dalam kawasan hutan harus diperhatikan. Hal ini menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas hasil hutan.
Forum APHI Editor Circle 2025
Forum APHI Editor Circle 2025 digelar sebagai ruang dialog antara pelaku usaha, pemerintah, dan media di Riau. Forum ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman publik mengenai peran strategis industri kehutanan, serta membangun narasi konstruktif tentang keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Dengan diskusi yang terbuka, diharapkan tercipta kesadaran kolektif untuk menjaga hutan sebagai aset penting bagi generasi mendatang.