Kejadian Mencurigakan di SMK Pangudi Luhur
Di tengah suasana kelas X Teknik Mesin SMK Pangudi Luhur, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, terjadi kejadian yang mengejutkan. Pada hari Kamis (24/7/2025) siang, seorang siswa menemukan belatung dalam lauk lele yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kejadian ini segera menjadi perbincangan dan viral setelah video kejadian tersebut beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, terlihat seekor belatung merayap di atas potongan ikan lele. Program MBG pada hari itu menyediakan makanan untuk 501 siswa dengan menu nasi, lele, tahu, caisin wortel, dan pisang. Menurut Kepala SMK Pangudi Luhur, Bruder Totok Tri Nugroho, siswa menemukan belatung ketika makanannya hampir habis. Ia mengatakan bahwa lele tersebut difoto dan dilaporkan ke SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Selanjutnya, makanan tersebut dibuang karena biasanya ompreng dikembalikan dalam keadaan bersih.
Totok memastikan bahwa siswa tersebut tidak mengalami gangguan kesehatan. “Baik-baik saja. Hanya, jadi heboh,” imbuhnya. Meski demikian, pihak sekolah tetap bersedia menerima program MBG, yang merupakan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, Totok meminta peningkatan kualitas dalam proses pengolahan makanan.
“Kami juga menyarankan makanan keringnya tidak hanya disediakan hari Jumat, bisa juga di hari lain,” ujarnya. Koordinator MBG di sekolah tersebut, Retno Wilis, menjelaskan bahwa siswa cenderung menyukai menu kering seperti roti lapis telur yang dibagikan setiap Jumat, karena praktis dan bisa dibawa pulang.
Penjelasan dari Pihak Pemasok
Pendistribusian makanan MBG di SMK Pangudi Luhur dilakukan oleh SPPG yang dikelola Yayasan Al Fath Islamic Center di Dusun Ngaglik, Muntilan, sekitar 1,5 km dari sekolah. Penanggung jawab yayasan, Eko Praharjono, menjelaskan bahwa seluruh bahan baku, termasuk ikan lele, dikirim malam sebelumnya oleh pihak supplier. “Dibawa dalam bentuk bersih. Kami tinggal masak jam 01.00 seperti biasanya,” ungkap Eko.
Terkait temuan belatung, Eko mengaku ragu. “Kami sangsi dengan itu, apakah bisa secepat itu muncul belatungnya,” kata dia. Meski begitu, Eko menegaskan pihaknya selalu menjaga standar kebersihan dan kualitas bahan makanan. “Supplier sudah kami tekanan untuk membersihkan sendiri. Harus bersih, steril,” tuturnya.
SPPG telah beroperasi sejak 19 Mei 2025, melayani 3.418 siswa di 36 sekolah. Menurut Eko, sejauh ini belum ada sekolah yang meminta penghentian program MBG akibat insiden tersebut. Pihak sekolah tetap berkomitmen untuk menjaga kualitas makanan dan memberikan layanan terbaik bagi siswa.