Proses IPO dan Persiapan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) EMAS
Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yaitu PT Merdeka Gold Resources Tbk, akan segera melakukan penawaran umum perdana saham atau IPO. Otoritas Jasa Keuangan telah menyetujui penggunaan kode saham EMAS untuk perusahaan tersebut. Dalam IPO ini, perseroan akan melepas 1,61 miliar saham biasa dengan nominal Rp 150 per saham. Jumlah ini setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp 2.880 per saham. Dengan estimasi ini, perseroan akan mengantongi dana sebesar Rp 4,65 triliun. Pemesanan saham melalui sistem eIPO harus disertai dengan ketersediaan dana yang cukup pada RDN pemesan.
Sekuritas yang Terlibat dalam IPO EMAS
Tujuh perusahaan sekuritas akan menjadi agen pelaksana IPO EMAS. Mereka adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (LG), PT UOB Kay Hian Sekuritas (AI), PT Sinarmas Sekuritas (DH), PT Indo Premier Sekuritas (PD), PT Aldiracita Sekuritas Indonesia (PP), PT OCBC Sekuritas Indonesia (TP), dan PT Amantara Sekuritas Indonesia (YO). Menariknya, dari daftar tersebut terdapat sekuritas yang sering disebut sebagai broker “zombie”, yaitu sekuritas berizin resmi tetapi nyaris tidak aktif bertransaksi di pasar.
Setelah IPO, struktur pemegang saham Merdeka Gold Resources terdiri atas 16,18 miliar saham dengan nilai nominal Rp 150 per saham atau setara Rp 2,42 triliun. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan 9,13 miliar saham senilai Rp 1,37 triliun atau 56,46%. Sementara itu, PT Elias Aldana Manajemen memiliki 130,42 juta saham senilai Rp 19,56 miliar atau 0,81%, PT Unitras Kapital Indonesia memiliki 286,88 juta saham senilai Rp 43,03 miliar atau 1,77%, dan PT Nugraha Eka Kencana memiliki 195,37 juta saham senilai Rp 29,30 miliar atau 1,21%.
Penggunaan Dana IPO dan Kinerja Keuangan EMAS
Setelah IPO, sebesar US$ 20 juta atau Rp 328,4 miliar akan dialokasikan ke PT Pani Bersama Tambang (PBT) dalam bentuk setoran modal bertahap. Dana ini akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku utama dan penunjang, biaya listrik, serta gaji karyawan. Setelah konversi setoran modal, Merdeka Gold Resources tetap menguasai 99,99% saham PBT.
Selain itu, sebanyak US$ 20 juta atau Rp 328,4 miliar juga akan diberikan dalam bentuk pinjaman kepada PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS) untuk mendanai modal kerja operasional. Sisa dana IPO akan digunakan untuk pembayaran lebih awal atas pinjaman kepada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berdasarkan perjanjian utang piutang sejak April 2022.
Hingga 4 Agustus 2025, saldo pinjaman Merdeka Gold Resources ke induk usahanya MDKA masih sebesar US$ 260 juta atau Rp 4,26 triliun. Adapun Merdeka Gold Resources bersama entitas anak usaha mencatat total liabilitas sebesar US$ 280 juta atau sekitar Rp 4,58 triliun per 31 Maret 2025. Jumlah tersebut terdiri dari liabilitas jangka pendek US$ 77,9 juta dan liabilitas jangka panjang US$ 202,1 juta.
Prospek IPO Merdeka Gold (EMAS)
Stockbit Sekuritas menilai bahwa setelah IPO, EMAS akan memiliki valuasi Price to Book Value (P/BV) sekitar 4–5,3x berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2025. Meski Price to Earnings (P/E) tidak bisa dihitung karena EMAS mencatat rugi bersih selama tiga tahun terakhir, prospek IPO ini tetap menarik.
Dari sisi perbandingan dengan perusahaan tambang emas murni lainnya, EMAS termasuk yang paling mahal jika dilihat dari EV/Reserves, tetapi tidak terlalu mahal bila dibandingkan berdasarkan EV/Resources. Stockbit menyebut bahwa eksekusi dan pengembangan proyek emas Pani menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor seiring fasilitas pengolahan perusahaan yang belum beroperasi.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menjelaskan bahwa kondisi ini masih cukup wajar karena masih pada fase awal. Proyek Emas Pani saat ini masih berada pada tahap konstruksi dan baru ditargetkan memulai produksi perdana pada 2026. Ia menyebut valuasi saat ini lebih banyak bergantung pada prospek jangka panjang proyek tersebut yang memiliki cadangan hampir 7 juta ounces. “Dan berpotensi menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Asia Pasifik,” ujarnya.
Menurut Mifta, IPO anak usaha MDKA ini masih menarik tetapi bergantung pada profil risiko masing-masing investor. Dari sisi potensi, ia melihat prospek EMAS cukup menarik, apalagi dengan target produksi awal yang bisa mencapai sekitar 500 ribu ounces per tahun. Meski begitu, ia menyebut risikonya masih cukup tinggi lantaran perusahaan belum memiliki arus kas yang stabil.
Presiden Direktur Merdeka Gold Resources, Boyke Poerbaya Abidin, menyampaikan bahwa Proyek Emas Pani memiliki potensi sumber daya hingga 7 juta ounces emas dan direncanakan menjadi tambang berbiaya rendah dengan umur operasional panjang. Dengan penerapan teknologi pertambangan berkelanjutan serta komitmen terhadap praktik ESG, pihaknya optimistis proyek ini mampu memberikan nilai tambah jangka panjang. Tidak hanya bagi pemegang saham, tetapi juga bagi pembangunan ekonomi masyarakat di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, dan Indonesia.