Motif Pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN Masih Tidak Jelas
Motif pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta, Kepala Cabang (Kacab) salah satu bank BUMN di Cempaka Putih Raya, masih menjadi pertanyaan besar. Keluarga korban merasa heran mengapa Ilham menjadi target kejahatan. Mereka menyatakan bahwa selama ini, Ilham tidak pernah mengeluhkan masalah apa pun terkait pekerjaannya, termasuk kepada istrinya.
Juru bicara keluarga Ilham, Widodo Bayu Ajie, menjelaskan bahwa korban telah bekerja di bank BUMN sejak lulus kuliah. Ia mulai bekerja sebagai marketing, yang merupakan proses strategis dalam mempromosikan dan menjual produk atau jasa kepada konsumen. Selama 13-14 tahun bekerja di bank tersebut, Ilham pernah bertugas di beberapa wilayah seperti Surabaya dan Bandung, sebelum pindah ke Jakarta.
Selama kariernya, Ilham tidak pernah bercerita tentang masalah apapun di tempat kerjanya. Bahkan, sebelum kejadian, ia tidak memberi tahu keluarga tentang adanya kejanggalan. “Saya berbicara dengan kakaknya dan istrinya, tapi dia tidak pernah cerita ada masalah,” ujar Widodo.
Pihak keluarga baru mengetahui informasi tentang dugaan kasus yang sedang dibongkar oleh Ilham melalui media. Sementara itu, pihak bank tidak memberikan keterangan resmi apakah Ilham sedang menangani kasus tertentu atau tidak. “Isu berkembang setelah kejadian, dan kami hanya mengetahui dari media,” tambahnya.
Penangkapan 8 Pelaku dan Harapan Keluarga
Keluarga korban mengapresiasi tindakan cepat pihak kepolisian dalam menangkap delapan tersangka. “Kami ucapkan terima kasih atas respons cepat dari pihak kepolisian,” kata Widodo. Meski begitu, keluarga masih menunggu informasi lanjutan dari kepolisian terkait motif dan hal lainnya agar kasus ini bisa terungkap sepenuhnya.
“Kami ingin tahu kenapa almarhum sampai harus dibunuh? Itu yang kami tunggu,” ujarnya. Pihak keluarga juga mengungkapkan bahwa mereka tidak mengenal sosok dari 8 pelaku yang ditangkap. “Dari 8 orang, tidak ada yang dikenal keluarga,” tambah Widodo.
Keluarga berharap kasus ini dapat diusut hingga tuntas dan pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku. “Kami ingin keadilan yang sebenar-benarnya. Jika nanti pelaku ditemukan, kami akan mendukung sesuai hukum,” pungkasnya.
Penangkapan Empat Eksekutor dan Keterlibatan Oknum Instansi
Empat pelaku penculikan, yaitu AT, RS, RAH, dan EW, telah ditangkap di berbagai lokasi. EW ditangkap saat tiba di bandara NTT hendak kabur ke kampung halaman. Sementara itu, empat pelaku lainnya ditangkap di Jakarta Pusat. Pihak kepolisian Polda Metro Jaya mengungkap bahwa penangkapan dilakukan setelah penyidik melakukan pendalaman kasus.
Adrianus Agal, kuasa hukum dari salah satu pelaku, menyampaikan permohonan maaf dari para tersangka kepada keluarga korban. Menurut Adrianus, ada oknum dari instansi tertentu yang terlibat dalam kasus ini. “Salah satu pelaku, Eras, diminta untuk menjemput paksa korban,” ujarnya.
Keempat pelaku rupanya dijanjikan bayaran puluhan juta rupiah untuk menculik korban. Namun, mereka hanya menerima uang muka. “Belum dibayar full, tapi sebagian sudah disita,” tambah Adrianus. Dengan motivasi ekonomi, pelaku terlibat karena tekanan finansial dan iming-iming uang.
Korban Tewas Setelah Diculik
Sebelum kejadian, Ilham diculik usai menghadiri rapat bersama rekan kerjanya di Supermarket Pasar Rebo, Jakarta Timur. Berdasarkan rekaman CCTV, korban terlihat mengenakan kemeja cokelat dan celana panjang krem saat berada di area parkir. Ia kemudian dibawa masuk ke mobil putih oleh dua orang yang keluar dari mobil di sebelahnya.
Setelah ditemukan, mayat Ilham ditemukan di Kampung Karangsambung, Kabupaten Bekasi, dengan kondisi tangan dan kaki terikat serta mata terlilit lakban. Dokter menyebut korban tewas akibat hantaman benda tumpul di bagian dada dan leher. Pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan toksikologi untuk mengetahui apakah ada racun dalam tubuh korban.
Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya tengah mendalami peran empat tersangka baru yang ditangkap. Keempat tersangka tersebut diduga merupakan aktor utama dalam kasus penculikan dan pembunuhan MIP.