Kekacauan di Gaza: Malam yang Penuh Kekerasan dan Ketakutan

Di tengah malam yang gelap dan penuh kekacauan, warga Gaza menghadapi situasi yang semakin memprihatinkan. Di jalan-jalan yang diterangi oleh ledakan dan api, dua anak Palestina tertidur di atas sepeda tua sementara ayah mereka yang terluka berusaha mencari tempat aman. Malam ini tidak membawa ketenangan, melainkan ancaman yang terus menerus mengancam kehidupan warga setempat.

Kekacauan di Gaza terus meningkat dengan kedatangan tank dan kendaraan lapis baja ‘Israel’ yang masuk ke distrik Sheikh Radwan, salah satu wilayah paling padat di kota tersebut. Ratusan tank, buldoser, dan kendaraan lapis baja diberitakan memasuki area ini pada hari kedua ofensif darat besar-besaran. Video-video yang beredar menunjukkan asap tebal yang menyelimuti lingkungan tersebut, sementara artileri dan bom asap digunakan untuk menutupi pergerakan pasukan.

Di tengah pertempuran yang intens, diperkirakan sekitar 10 ribu pejuang perlawanan Palestina sedang menghadapi serangan dari 100 ribu tentara ‘Israel’. Salah satu bentrokan besar terjadi di Koridor Philadelphia, selatan Rafah. Dalam laporan yang diterbitkan di X, pasukan perlawanan berhasil meledakkan sebuah jip militer ‘Israel’ dalam konvoi, yang mengakibatkan empat tentara tewas dan delapan lainnya luka-luka.

Penderitaan warga sipil semakin nyata. Seorang pria Palestina terlihat menangis setelah menerima perintah evakuasi sambil membawa barang-barang rumah tangganya. Ia bertanya, “Apakah darah kami semurah ini atau kata-kata kami tidak berarti apa-apa?” Pertanyaan ini menggambarkan rasa putus asa yang dirasakan oleh banyak warga Gaza.

Invasi Darat Mencapai Jantung Kota

Distrik Sheikh Radwan, yang mencakup beberapa kawasan penting seperti Abu Iskandar, al-Tawam, dan al-Saftawi, menjadi target utama pasukan ‘Israel’. Jalan al-Jalaa, yang merupakan jalur utama penghubung pusat kota dengan wilayah utara, kini menjadi medan perang. Penguasaan wilayah ini diyakini akan membuka jalan bagi pasukan ‘Israel’ menuju jantung Gaza City.

Operasi ini dilakukan dengan tujuan membebaskan sandera Hamas dan menumpas sekitar 3.000 pejuang yang dianggap masih bertahan di kota. Namun, situasi di Gaza disebut sebagai “tidak manusiawi” oleh lebih dari 20 lembaga bantuan dunia seperti Save the Children dan Oxfam. Serangan udara sebelum invasi darat juga telah merusak infrastruktur sipil, termasuk panel surya dan generator.

Keadaan Warga Sipil yang Memprihatinkan

Warga Gaza yang terpaksa mengungsi menghadapi tantangan berat. Saad Hamada, seorang warga yang mengungsi ke selatan, mengatakan bahwa hidup di Gaza menjadi mustahil, sehingga banyak orang terpaksa meninggalkan kota meskipun perjalanan penuh risiko. Foto-foto dari Reuters menunjukkan antrean panjang mobil dan gerobak penuh barang rumah tangga yang berjalan menuju selatan. Perjalanan ini bisa memakan waktu berjam-jam, dengan biaya transportasi yang sangat tinggi.

PBB memperkirakan setidaknya 190.000 orang mengungsi sejak Agustus, sementara ‘Israel’ mengklaim 350.000 orang sudah meninggalkan Gaza City. Meski begitu, lebih dari 650.000 penduduk masih bertahan di kota tersebut. Munir Azzam, warga Gaza utara, mengatakan bahwa setiap hari selebaran dijatuhkan memerintahkan evakuasi, tetapi di saat yang sama, Israel mengebom ke segala arah. Ia bertanya, “Ke mana kami bisa pergi? Tidak ada tempat aman di selatan.”

Perubahan Kepemimpinan di Brigade Al Qassam

Sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam, dilaporkan melakukan restrukturisasi kepemimpinan. Media Ibrani yang dikutip RNTV pada Jumat, 12 September 2025 menyebut Muhannad Rajab, sosok “bayangan” yang jarang muncul, dipilih menjadi komandan baru Brigade Kota Gaza. Perubahan ini terjadi setelah serangkaian pembunuhan yang menewaskan para pemimpin senior, termasuk Mohammed Deif, Marwan Issa, dan Mohammed al-Sinwar.

Ezz al-Din al-Haddad, mantan komandan Brigade Kota Gaza yang kini naik menjadi panglima baru, menunjuk Rajab untuk memegang kendali operasional. Sumber keamanan ‘Israel’ menilai langkah Hamas ini sebagai upaya membangun ulang struktur komando agar lebih terorganisasi, menghadapi perluasan invasi darat ‘Israel’ yang bertujuan merebut Gaza sepenuhnya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *