Komisi Kepolisian Nasional Lakukan Pemeriksaan di Lokasi Kematian Diplomat Kemlu

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) melakukan kunjungan ke lokasi kamar kos yang menjadi tempat meninggalnya diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu), ADP (39), di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memeriksa berbagai aspek penting di tempat kejadian perkara (TKP), guna mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam proses penyelidikan.

Komisioner Kompolnas, Choirul Anam, menjelaskan bahwa tim telah menelusuri kondisi fisik kamar, termasuk plafon, kasur, serta posisi kunci pintu kamar. Selain itu, pihaknya juga memeriksa barang-barang pribadi milik ADP yang diduga berkaitan dengan kematiannya. Tim Kompolnas juga mendalami aktivitas pekerjaan serta riwayat interaksi pribadi korban dengan lingkungannya.

“Yang tak kalah penting, kami juga diberi informasi terkait sesuatu yang sifatnya baru, yang belum ada dalam perdebatan. Itu yang sekarang kami telusuri lebih lanjut, termasuk lewat pengecekan langsung ke TKP dan koordinasi dengan Polda Metro,” ujar Anam.

Informasi dari Penjaga Kos

Menurut Anam, penjaga kos adalah orang pertama yang menemukan ADP dalam keadaan meninggal dunia. Untuk itu, Kompolnas meminta penjaga memperagakan secara langsung cara membuka pintu. “Kami pastikan secara fisik dan minta diperagakan langsung. Slot-nya hanya bisa dibuka dari dalam, dan saat dibuka itu dalam keadaan terkunci,” ucap dia.

Kompolnas juga memeriksa plafon kamar, plafon kamar mandi, saluran air, hingga posisi barang-barang di dalam ruangan. Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan atau upaya masuk paksa. “Plafon, baik di kamar maupun kamar mandi, tidak ada yang rusak. Kami juga cek saluran air, kasur, dan elemen lain di kamar,” ujar Anam.

Ia menegaskan, pemeriksaan tersebut penting untuk memastikan apakah ada kemungkinan orang lain masuk atau keluar sebelum korban ditemukan.

Informasi dari Keluarga

Sebelum meninjau TKP, Kompolnas terlebih dahulu bertemu keluarga ADP di Yogyakarta pada Minggu (20/7/2025). Dari pertemuan itu, Kompolnas memperoleh berbagai informasi penting yang belum pernah muncul sebelumnya, termasuk kronologi sebelum dan sesudah peristiwa.

“Kami mendapat banyak informasi penting dari keluarga. Bukan hanya soal hari kejadian, tapi juga hari-hari sebelumnya dan sesudahnya. Ini memperjelas struktur peristiwa,” katanya.

Informasi tersebut akan diserahkan ke Polda Metro Jaya untuk pendalaman lebih lanjut. Soal penyebab kematian, Anam menegaskan pihaknya masih menunggu hasil visum dan autopsi dari kepolisian. “Kalau otopsinya makin spesifik, maka hasilnya bisa makin lama. Itu lumrah. Bahkan bisa memakan waktu dua sampai tiga bulan,” ujar Anam.

Sistem Penguncian Pintu

Kompolnas mendalami sistem penguncian pintu kamar. Terdapat dua jenis kunci, yaitu kunci utama dan slot manual yang hanya bisa dikunci dari dalam. “Saya tanya, posisi kunci yang slot bagaimana? Jawabannya terkunci. Itu yang kami konfirmasi langsung ke penjaga, dan kami cek juga videonya,” jelas Anam.

Kompolnas memastikan CCTV di area kos berfungsi dan mencakup durasi sebelum dan sesudah kejadian. “CCTV-nya aktif. Ditunjukkan ke kami durasi dan titik-titik pengambilan gambarnya. Jumlah sebelum dan sesudah kejadian pun sama. Tidak ada yang hilang,” kata dia.

Rekaman CCTV dan Perilaku Penjaga Kos

Kompolnas juga memperhatikan rekaman CCTV pada Selasa (8/7/2025) pukul 00.27 WIB, yang menunjukkan penjaga mondar-mandir di depan kamar ADP sambil berbicara lewat telepon. Beberapa saat kemudian, ia kembali berdiri cukup lama di depan kamar, sekitar 22 detik, diduga masih berbicara lewat telepon.

Pukul 05.20 WIB, ia kembali terlihat melintas, kali ini mengenakan kemeja putih dan celana pendek sambil membawa sapu. Ia sempat mengintip ke arah jendela kamar ADP sebelum akhirnya berbalik arah.

Informasi dari Tetangga

Seorang tetangga kos, Nurman (nama samaran), mengaku jarang melihat korban membawa tamu. Menurut dia, kos tempat mereka tinggal memiliki sistem keamanan ketat dengan akses kartu. “Pemilik kos juga cukup ketat. Kalau ada tamu, pasti diawasi, pemilik pasti akan tanya,” ujar Nurman.

Kamar ADP berada di bagian paling depan dan cukup jauh dari kamar penghuni lain. “Interaksi kami pun terbatas, cuma papasan dan saling sapa. Enggak pernah ngobrol lebih jauh,” ucap Nurman.

Anam mengatakan, Kompolnas telah mencocokkan komunikasi antara istri korban dan penjaga kos secara rinci, hingga ke detik per detiknya. “Komunikasi antara istri korban dan penjaga kami dapatkan lengkap, bahkan menit per menitnya,” ujar Anam.

Namun, Anam menekankan pentingnya menjaga profesionalisme investigasi serta tidak mendahului hasil autopsi resmi. “Cepat tapi tidak profesional, itu rugi. Cepat tapi tidak kredibel, juga rugi. Kami dorong agar penanganan ini profesional dan kredibel, itu yang utama,” katanya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *