Peringkat ESG dan Kinerja Keuangan ENRG Membawa Optimisme

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berhasil meraih peringkat Medium Risk atas kinerja Environmental, Social, and Governance (ESG) dari lembaga internasional Morningstar Sustainalytics. Direktur Utama ENRG, Syailendra S Bakrie menyatakan bahwa pencapaian ini menjadi bentuk pengakuan terhadap komitmen perusahaan dalam meningkatkan standar keberlanjutan di sektor energi.

Menurut Syailendra, hasil penilaian tersebut menunjukkan bahwa perseroan memiliki tingkat risiko sedang dalam menghadapi potensi dampak lingkungan, sosial, maupun tata kelola terhadap keberlanjutan bisnisnya. Selain itu, ENRG juga mendapatkan rating A+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), yang mencerminkan kinerja keuangan yang kuat pada semester pertama tahun ini.

Syailendra menyampaikan bahwa saat ini, EMP berada di peringkat ke-12 dari 276 perusahaan minyak dan gas dunia. Hal ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam operasional perusahaan.

Fokus pada Praktik Bisnis Berkelanjutan

EMP tetap fokus menjaga praktik bisnis yang berkelanjutan melalui beberapa inisiatif. Salah satunya adalah efisiensi energi, penerapan tata kelola yang transparan, serta kontribusi sosial bagi masyarakat di wilayah operasional. Langkah-langkah ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membantu menjaga lingkungan dan memperkuat hubungan dengan masyarakat setempat.

Pada perdagangan Senin (15/9), harga saham ENRG mengalami penguatan signifikan. Saham ENRG naik sebesar 5,74% atau 35 poin menjadi Rp 645. Kenaikan ini terjadi seiring dengan rilis laporan keuangan yang menunjukkan pertumbuhan laba bersih selama semester pertama 2025.

Sejak awal tahun hingga saat ini, saham ENRG telah mengalami lonjakan sebesar 166%. Dalam tiga bulan terakhir, harga saham ENRG melonjak hingga 182,41%, menunjukkan sentimen positif terhadap kinerja perusahaan.

Profil Perusahaan dan Strategi Pengembangan

Energi Mega Persada merupakan bagian dari Grup Bakrie yang bergerak di bidang hulu migas. Perusahaan beroperasi di Indonesia dan Mozambik. Keluarga Bakrie memiliki kepemilikan saham sebesar 15,9% melalui PT Shima Global Kapital. Sementara itu, pemegang saham mayoritas lainnya adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) dengan kepemilikan saham sebesar 22,5%.

Sejak akhir Mei, ENRG gencar melakukan aksi korporasi untuk memperkuat posisi bisnisnya. Salah satu langkah penting adalah menambah 25% partisipasi interest di Kontrak Kerja Sama Kangean dari Japan Petroleum Exploration Co., Ltd. (JAPEX). Selain itu, ENRG juga membentuk kerja sama strategis dengan JAPEX untuk mempercepat pembangunan Blok Gas Gebang di Sumatera Utara.

Selain itu, ENRG juga melaksanakan aksi korporasi untuk menambah modal usaha melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHETD) atau private placement. Melalui aksi ini, ENRG menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,17 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham dan harga pelaksanaan Rp 288 per saham.

Kinerja Keuangan dan Prospek Saham

Kenaikan harga saham ENRG juga dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global. Harga minyak global meningkat 1,42% menjadi US$ 69 per barrel pada perdagangan Selasa (2/9), setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terhadap aliran pendapatan minyak Iran.

Laporan keuangan semester pertama 2025 menunjukkan kinerja yang positif. Laba bersih ENRG mencapai US$ 35,72 juta atau sekitar Rp 579,85 miliar, tumbuh 6,53% dibandingkan laba bersih pada semester yang sama tahun sebelumnya. Penjualan neto juga meningkat menjadi US$ 239,11 juta dari US$ 201,89 juta secara year on year (yoy).

Analisis Teknis dan Prediksi Harga

Retail Research Analyst CGS Sekuritas, Andrian Alamsyah Saputra, memprediksi bahwa saham ENRG akan terus menguat. Ia menyarankan level resistance di kisaran Rp 625-640, sedangkan level support berada di Rp 595-580. Target harga terdekat disebutkan berada di kisaran Rp 625-640.

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada suatu waktu. Ketika saham menyentuh level ini, biasanya harga akan kembali naik karena daya beli saham meningkat. Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya terjadi aksi jual besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

Andrian juga menyebutkan bahwa stochastic menunjukkan momentum golden cross, yang memberikan harapan bahwa harga ENRG masih memiliki peluang untuk terus menguat.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *