Pentingnya Pemeriksaan Hepatitis untuk Kelompok Berisiko Tinggi
Hepatitis masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Meski demikian, banyak masyarakat belum memahami secara jelas siapa saja yang sebaiknya rutin menjalani pemeriksaan serta kapan waktu terbaik untuk melakukannya.
Hepatitis adalah kondisi peradangan pada hati yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi virus, konsumsi alkohol berlebihan, obat-obatan tertentu, atau penyakit autoimun. Dalam hal ini, hepatitis B dan C menjadi fokus utama karena bisa menimbulkan komplikasi serius jika tidak segera ditangani.
Dr. Melati Hidayanti, spesialis penyakit dalam dari RSPI Sulianti Saroso, menjelaskan bahwa ada beberapa kelompok yang disarankan untuk melakukan pemeriksaan hepatitis secara rutin. Terutama mereka yang memiliki risiko tinggi, seperti petugas medis, pasien cuci darah, pengguna narkoba suntik, individu dengan pasangan yang terinfeksi hepatitis, serta ibu hamil.
Petugas Medis Harus Lakukan Pemeriksaan Rutin
Petugas medis disarankan untuk melakukan pemeriksaan hepatitis setiap tahun. Hal ini bertujuan untuk memastikan tingkat antibodi dalam tubuh tetap cukup. Jika antibodi terhadap hepatitis B tidak mencukupi, vaksinasi ulang bisa diberikan.
Selain itu, pasien yang menjalani prosedur cuci darah juga sangat disarankan untuk tes hepatitis secara berkala. Meskipun produk darah sudah melalui proses screening ketat, tetap ada risiko penularan virus hepatitis.
Penularan dari Ibu ke Anak Masih Jadi Kekhawatiran
Penularan hepatitis dari ibu ke anak masih menjadi kekhawatiran besar. Dokter menjelaskan bahwa hepatitis B bisa ditularkan dari ibu ke janin selama masa kehamilan melalui plasenta. Jika ibu terinfeksi hepatitis B, bayi dapat terkena virus tersebut.
Untuk mengurangi risiko ini, langkah pencegahan segera diberikan dalam 12 jam pertama setelah bayi lahir. Bayi akan mendapatkan suntikan kekebalan pasif serta vaksin hepatitis B. Vaksinasi dilanjutkan hingga usia 6 bulan. Setelah itu, bayi dapat diperiksa untuk mengetahui apakah ia telah memiliki antibodi yang cukup.
Sementara itu, untuk hepatitis C, pemeriksaan biasanya dilakukan lebih lama, bahkan sampai usia 18 bulan, karena kekebalan dari ibu bisa bertahan lama dalam tubuh bayi.
Stigma Membuat Orang Enggan Tes Hepatitis
Sayangnya, banyak masyarakat enggan melakukan tes hepatitis karena takut hasilnya positif dan khawatir dikucilkan oleh lingkungan. Stigma ini membuat banyak orang menunda pemeriksaan, padahal saat ini sudah tersedia obat untuk hepatitis B dan C. Bahkan hepatitis C bisa disembuhkan sepenuhnya jika didiagnosis dan ditangani lebih awal.
Pemeriksaan dasar sudah tersedia di banyak puskesmas, terutama untuk ibu hamil. Bagi yang ingin pemeriksaan lebih lengkap, klinik dan rumah sakit menyediakan panel tes komprehensif, termasuk penilaian antibodi, kadar virus, dan pemeriksaan fungsi hati.
Dengan semakin luasnya akses pemeriksaan dan pengobatan, tidak ada alasan lagi untuk takut atau malu. Edukasi yang tepat diharapkan mampu mengubah pandangan masyarakat, sehingga upaya deteksi dan penanganan hepatitis bisa berjalan lebih efektif.