Pengertian Aritmia dan Gejalanya

Aritmia, atau disebut juga disritmia, adalah kondisi medis yang menyebabkan irama jantung menjadi tidak normal. Kondisi ini bisa berupa detak jantung yang terlalu cepat (takikardia) maupun terlalu lambat (bradikardia). Dalam beberapa kasus, seseorang yang mengalami aritmia mungkin tidak merasakan gejala sama sekali. Aritmia bisa dikategorikan sebagai ringan atau berbahaya, tergantung pada penyebab dan dampaknya terhadap tubuh.

Dalam keadaan normal, detak jantung orang dewasa berkisar antara 60 hingga 100 denyut per menit. Namun, atlet mungkin memiliki detak jantung yang lebih rendah, seperti 40-an denyut per menit. Detak jantung maksimal saat beraktivitas biasanya dihitung dengan rumus 220 dikurangi usia. Detak jantung yang sehat biasanya stabil dan teratur, seperti bunyi “lup-dup” yang konsisten. Jika iramanya tidak teratur, detak jantung bisa terasa seperti berdebar kencang.

Gejala Aritmia yang Perlu Diwaspadai

Aritmia seringkali tidak menunjukkan gejala, sehingga sulit untuk dideteksi. Namun, dokter bisa mendeteksi detak jantung yang tidak normal saat pemeriksaan rutin. Jika gejala muncul, biasanya meliputi jantung berdebar, pusing, sesak napas, nyeri dada, kelelahan, pingsan, berkeringat berlebih, serta detak jantung yang terlalu cepat atau lambat.

Penyebab Aritmia yang Umum

Aritmia bisa terjadi meskipun jantung dalam kondisi sehat. Penyebabnya bervariasi, mulai dari penyakit jantung, ketidakseimbangan elektrolit, cedera jantung, infeksi, pengaruh obat-obatan tertentu, gangguan sinyal listrik jantung, hingga faktor seperti stres, konsumsi alkohol, kafein, serta kondisi medis seperti diabetes, hipertensi, apnea tidur, gangguan tiroid, dan infeksi COVID-19.

Faktor Risiko Aritmia yang Harus Diketahui

Risiko aritmia meningkat pada usia lanjut dan jika ada riwayat keluarga. Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat terlarang juga dapat memicu risiko. Selain itu, kondisi medis seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, sleep apnea, serta paparan polusi lingkungan turut meningkatkan kemungkinan terkena aritmia. Orang yang pernah mengalami atau menjalani pengobatan penyakit jantung juga lebih rentan mengalami aritmia.

Jenis-Jenis Aritmia yang Perlu Dipahami

Berdasarkan bagian jantung tempat gangguan terjadi, aritmia diklasifikasikan menjadi beberapa jenis:

  • Aritmia supraventricular: Jenis aritmia ini dimulai dari atrium atau ruang atas jantung.
  • Aritmia ventrikel: Aritmia ini dimulai dari ventrikel atau ruang bawah jantung manusia.
  • Bradiaritmia dan ritme persimpangan: Kondisi ini bisa terjadi karena masalah di sistem listrik jantung seperti nodus sinoatrial, nodus atrioventrikular, atau jaringan His-Purkinje.

Diperkirakan sekitar 1,5 hingga 5 persen orang mengalami aritmia. Namun, banyak orang yang tidak menunjukkan gejala, sehingga sulit untuk mengetahui jumlah pasti.

Komplikasi yang Ditimbulkan dan Pencegahan Dini

Jika aritmia tidak ditangani, bisa menimbulkan komplikasi serius seperti melemahkan otot jantung atau kardiomiopati, gagal jantung, dan stroke. Beberapa jenis aritmia ringan mungkin hilang dan muncul kembali sesuai pemicunya. Namun, bagi penderita aritmia berisiko tinggi, perawatan seumur hidup sangat diperlukan.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan jantung dan mengenali tanda-tanda awal aritmia sangat penting. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi faktor risiko, seperti berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol dan kafein, menghindari stimulan dalam obat atau suplemen, mengontrol tekanan darah dan gula darah, menangani apnea tidur, menjaga berat badan ideal, serta menghindari aktivitas yang memicu aritmia.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *