Serangan Israel di Qatar dan Reaksi dari Mesir
Serangan udara yang dilakukan oleh Israel terhadap pemimpin Hamas di Doha, ibu kota Qatar, telah memicu ketegangan diplomatik antara negara-negara di kawasan Timur Tengah. Menurut laporan intelijen, Israel disebut telah merencanakan serangan ini selama beberapa waktu, karena Mesir dinilai telah menggagalkan upaya gencatan senjata di kota tersebut selama dua tahun terakhir.
Pada hari Selasa, sekitar 12 serangan udara menghancurkan bangunan-bangunan perumahan di Doha. Serangan tersebut menargetkan para pemimpin Hamas, yang menimbulkan kecaman luas dari berbagai pihak di kawasan. Mesir menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan Israel melanggar kedaulatan wilayah mereka. Pernyataan ini menunjukkan bahwa setiap upaya pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Hamas di tanah Mesir akan dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan dan deklarasi perang oleh Israel.
Meskipun belum ada pengakuan resmi bahwa tokoh utama Hamas pernah tinggal di Mesir, sumber keamanan menyatakan bahwa beberapa dari mereka telah tinggal di negara itu selama bertahun-tahun. Identitas, jumlah, dan lokasi pasti mereka tetap dirahasiakan demi alasan keamanan. Sementara itu, pejabat Mesir telah meminta rekan-rekan mereka di Israel untuk kembali berunding guna mencapai gencatan senjata di Gaza, alih-alih memperburuk situasi dengan memicu konflik.
Hubungan antara Mesir dan Israel telah tegang dalam beberapa bulan terakhir, terutama karena ketidaktegasan Israel terhadap kemungkinan gencatan senjata. Pada 19 Agustus, Mesir mengerahkan sekitar 40.000 tentara di sepanjang perbatasan dengan Gaza untuk mencegah warga Palestina masuk ke Sinai. Hal ini juga menjadi bagian dari upaya menghindari kekacauan akibat serangan besar Israel di wilayah kantong tersebut.
Negosiasi gencatan senjata di Gaza telah gagal, dan Mesir dikesampingkan dalam proses tersebut. Korespondensi antara Mesir dan Israel terputus total, sehingga tidak ada kemajuan dalam perundingan. Pejabat intelijen senior menyatakan bahwa hubungan antara kedua negara semakin memburuk.
Mesir tidak secara langsung mendukung Hamas, meskipun mereka memandang kelompok tersebut dengan curiga. Analis keamanan menyatakan bahwa Mesir tidak membela Hamas, namun mereka menganggap dirinya sebagai negara Arab paling strategis. Setiap serangan Israel di wilayahnya akan dianggap sebagai bentuk penghinaan, yang dapat merusak prestise Mesir dan status regionalnya.
Kairo secara historis memainkan peran penting dalam mediasi antara Israel dan faksi-faksi Palestina. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Mesir semakin dikesampingkan dalam perundingan damai. Rakyat Mesir sebagian besar berselisih dengan rezim yang berkuasa terkait normalisasi hubungan dengan Israel, menganggap Israel sebagai musuh dan penjajah Palestina.
Di tengah situasi ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan menargetkan Hamas di mana pun mereka berada. Ia membandingkan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dengan serangan 11 September 2001 di AS, serta menganggap kampanye Israel sebagai bagian dari perang global melawan ‘terorisme’. Netanyahu menyatakan bahwa tindakan Israel mirip dengan yang dilakukan Amerika dalam memburu teroris Alqaidah di Afghanistan dan membunuh Osama bin Laden di Pakistan.
Pejabat militer Mesir menegaskan bahwa serangan di Doha tidak melibatkan wilayah udara Mesir. Mereka menyatakan bahwa tidak ada pesawat Israel yang melintasi wilayah udara Mesir sama sekali. Sistem pertahanan udara Tiongkok yang dikerahkan di Semenanjung Sinai juga membuat sulit bagi pesawat mana pun untuk melintas tanpa izin atau terdeteksi.
Dengan situasi yang semakin memanas, Mesir tetap menjaga posisi sebagai negara yang ingin menjaga keseimbangan dalam konflik Timur Tengah. Namun, kebijakan Israel yang agresif dan serangan terhadap Hamas di wilayah kantong tersebut telah memicu kekhawatiran bahwa Mesir bisa terlibat dalam konflik yang lebih besar.