Pengumuman Proyek Film Baru Angga Dwimas Sasongko

Visinema Pictures secara resmi mengumumkan proyek film terbaru yang akan dibuat oleh Angga Dwimas Sasongko dengan judul Perang Jawa. Film ini mengangkat kisah sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro, tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Angga menjelaskan bahwa film ini tidak hanya sekadar biopik tentang kehidupan sang pahlawan, tetapi lebih fokus pada peristiwa penting selama lima tahun Perang Jawa, yaitu antara tahun 1825 hingga 1830.

“Film ini bukan tentang perjalanan hidup Pangeran Diponegoro, melainkan tentang satu peristiwa besar dan ada satu tokoh besar di dalamnya serta apa yang dilakukan,” ujarnya saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta.

Film Perang Jawa telah memasuki tahap pra-produksi dan dirancang untuk dipertontonkan pada momen peringatan 200 tahun Perang Jawa. Film ini juga didampingi oleh sejarawan ternama Peter Carey, yang akan membantu memastikan akurasi sejarah dalam film tersebut.

Angga menyampaikan bahwa minimnya film perang epik di Indonesia menjadi alasan utama di balik produksi film ini. Ia menilai, film terakhir yang menceritakan perang di Indonesia adalah Tjoet Nja’ Dhien, yang rilis sekitar 37 tahun lalu.

“Kami ingin membuat film yang bisa menjadi inspirasi, bukan hanya sekadar berbicara tentang skala produksi atau jumlah penonton. Kami ingin film ini memiliki dampak yang melampaui zamannya,” tambahnya.

Sejarah Perang Jawa dan Peran Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III, yang memiliki nama asli Raden Mas Ontowiryo. Ia lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta. Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pemimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa, yang terjadi karena ketidaksetujuannya terhadap campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan.

Selain itu, para petani lokal mengalami kesulitan akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Eropa seperti Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman sejak tahun 1821. Perang Jawa berlangsung selama lima tahun, dari tahun 1825 hingga 1830, dan menelan korban jiwa sebanyak 200.000 penduduk Jawa.

Perang ini tidak hanya melibatkan perlawanan terhadap Belanda, tetapi juga perang saudara antara orang-orang keraton yang mendukung Pangeran Diponegoro dan yang anti-Diponegoro (yang bekerja sama dengan Belanda). Akhirnya, perang berakhir dengan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa.

Konflik antara Pangeran Diponegoro dan Belanda memuncak setelah pemasangan tiang pancang untuk membangun jalan. Kabar bahwa Pangeran Diponegoro akan ditangkap oleh Belanda membuat konflik semakin memanas. Residen kemudian memanggil Pangeran Diponegoro ke Loji atau benteng Belanda.

Residen turun tangan dengan mengirimkan pasukan untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Akibatnya, rumah Pangeran Diponegoro dibakar, dan ia serta pasukannya melarikan diri ke Selarong.

Pada 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menekan pasukan Pangeran Diponegoro di Magelang. Pangeran Diponegoro menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Ia akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Manado, lalu dipindahkan ke Makassar hingga akhirnya wafat di Benteng Rotterdam pada 8 Januari 1855.

Rachel Farahdiba Regar berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *