Kisah Inspiratif Imam, Pemuda dari Medan yang Rela Jadi Kuli Panggul demi Kuliah di UI
Imam adalah seorang pemuda asal Medan, Sumatera Utara, yang berhasil menembus batas kesulitan untuk mewujudkan impian menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Kisahnya menginspirasi banyak orang karena ia rela melakukan pekerjaan kasar, seperti menjadi kuli panggul, demi membiayai pendidikannya. Hal ini dilakukannya setelah mendapatkan penerimaan di jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik UI.
Sejak awal, Imam menghadapi berbagai tantangan. Keluarganya memiliki kondisi ekonomi yang sederhana, sehingga biaya kuliah menjadi beban berat. Ia juga harus mengumpulkan uang untuk pergi dari Medan ke Depok, tempat kampus UI berada. Namun, ia tidak pernah menyerah. Dengan semangat dan doa dari ibunya, Imam mulai mencari cara untuk memperoleh uang tambahan.
Salah satu langkah yang diambil oleh Imam adalah bekerja sebagai kuli panggul di sebuah pabrik sabun dekat rumahnya. Ia bekerja dari jam 12 malam hingga jam 8 pagi, dengan upah harian. Meski tubuhnya terasa sakit akibat pekerjaan tersebut, ia tetap bersemangat. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan dana guna membeli laptop, yang sangat dibutuhkannya dalam proses belajarnya.
Namun, meskipun usaha kerasnya, uang yang terkumpul masih belum cukup. Keadaan ini membuat Imam merasa khawatir akan masa depannya. Tapi, takdir berkata lain. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba datang kabar yang luar biasa. Seorang dosen ITB sekaligus influencer ternama, yaitu Imam Santoso, datang langsung ke rumah sederhana Imam di Medan. Ia datang bersama tim Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk memberikan beasiswa kepada Imam.
Kedatangan Imam Santoso dan tim BSI disambut hangat oleh Imam dan ibunya. Sang ibu tak bisa menahan air mata saat melihat putranya diberi kesempatan untuk kuliah tanpa perlu khawatir tentang biaya. “Gak nyangka Pak Imam bisa kemari,” kata ibunda Imam sambil menangis bahagia.
Imam Santoso menjelaskan bahwa BSI tidak hanya memberikan beasiswa, tetapi juga menanggung seluruh biaya hidup Imam, termasuk pembelian laptop. “InsyAllah Imam nanti kuliah sama di UI gratis, ditanggung biayanya. Selain itu untuk biaya hidup juga ditanggung, jadi tugasmu hanya belajar. Laptop juga dikasih,” ujar Imam Santoso.
Tangisan kebahagiaan pun pecah ketika Imam dan ibunya mendengar kabar tersebut. Imam langsung memeluk ibunya erat, sementara sang ibu berjanji akan membimbing anaknya agar rajin belajar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. “Terima kasih ya Allah, dia rajin Pak, dia rajin,” ucap ibunda Imam.
Setelah mengemas barang-barangnya, Imam berangkat menuju Depok didampingi Imam Santoso dan tim BSI. Tangisan kebahagiaan dan rasa bangga mengiringi kepergian putra mereka. “Saya ikut anterin ya Pak sampai depan,” ujar sang ibunda.
Kisah Imam menjadi bukti bahwa ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Banyak perusahaan dan institusi yang siap memberikan beasiswa bagi anak-anak berprestasi dari kalangan kurang mampu. Dengan dukungan yang tepat, impian bisa menjadi kenyataan.