Sekolah di Pinggiran Kota Jadi Sorotan Akibat Kasus Bullying
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan dinamis, ada tempat-tempat yang jauh dari keramaian kota, namun memiliki peran penting dalam membentuk masa depan generasi muda. Salah satunya adalah SMPN 3 Doko yang terletak di Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Baru-baru ini, sekolah ini mendadak menjadi perhatian publik setelah video tentang bullying viral di media sosial.
Video tersebut menunjukkan insiden kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah. Kejadian ini memicu reaksi luas dari masyarakat dan memaksa Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar untuk segera menurunkan tim investigasi. Tim tersebut terdiri dari sekretaris dinas dan kepala bidang SMP. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa proses pembelajaran tetap aman dan tidak terjadi insiden serupa di masa depan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Adi Andaka, mengungkapkan bahwa hingga saat ini, telah terjadi tiga kasus bullying di Blitar pada tahun 2025. Namun, hanya kasus di SMPN 3 Doko yang berhasil menarik perhatian publik secara luas. Menurutnya, anak-anak adalah amanah bersama yang harus dijaga oleh guru, orang tua, dan masyarakat agar bisa tumbuh menjadi generasi yang hebat, bukan generasi yang menyakiti.
Menurut Adi, kasus ini juga menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap pendidikan di daerah-daerah yang jauh dari kota harus diperkuat. Anak-anak perlu mendapatkan pendidikan karakter yang baik agar dapat belajar dan berkembang sebagai generasi yang berprestasi, bukan sebagai pelaku kekerasan.
Jumlah siswa di SMPN 3 Doko tidak begitu besar. Di kelas VII, hanya ada 20 siswa yang terbagi dalam dua rombongan belajar (rombel). Idealnya, jumlah siswa yang sedikit akan membuat proses belajar mengajar lebih efektif, serta hubungan antara siswa dan guru menjadi lebih dekat.
Namun, kejadian bullying yang terjadi menunjukkan bahwa jumlah siswa yang sedikit tidak selalu menjamin kondisi yang baik. Bahkan, dua siswa yang terlibat dalam kasus ini merupakan teman sebaya yang tinggal di dusun yang sama dan tumbuh bersama sejak kecil.
“Anak-anak itu semua masih kelas 7, dan berasal dari satu dusun. Mungkin karena terlalu dekat dan belum bisa mengelola perbedaan, terjadilah insiden itu,” ujar Adi.
Perundungan yang viral tersebut terjadi pada Jumat pekan lalu (18/7), tepat setelah para siswa selesai mengikuti kegiatan kerja bakti. Korban dan pelaku terlibat dalam saling olok-olok, hingga salah satu siswa mengajak korban ke sudut ruangan. Perundungan pun terjadi.
Adi menekankan bahwa kasus ini bukan hanya soal satu sekolah, melainkan gambaran bagaimana kita harus memperkuat pendidikan karakter, terutama di sekolah-sekolah kecil seperti SMPN 3 Doko. Dengan pendidikan karakter yang kuat, anak-anak akan lebih mampu mengelola konflik dan menjaga hubungan yang sehat dengan sesama.