Seorang Siswa Jadi Satu-Satunya yang Diterima di SMA Tamansiswa Bandung

Nadif Alfarizi, seorang siswa berusia 16 tahun, menjadi satu-satunya peserta didik yang diterima di SMA Tamansiswa Bandung. Meski hanya satu orang yang masuk ke sekolah tersebut, ia memilih untuk tetap melanjutkan pendidikannya di sana.

Ditemui di SMA Tamansiswa, Nadif mengatakan bahwa alasan utamanya memilih sekolah ini adalah karena banyaknya atlet profesional yang lahir dari SMA tersebut. Ia tertarik untuk menjadi atlet dan sudah terjun dalam bidang bela diri sejak Sekolah Dasar.

“Memang pilihan saya. Karena ini sekolah para atlet juga, ingin jadi atlet. Saya di bidang tarung derajat. Dari SD sudah ikut tarung derajat,” ujarnya.

Bagi Nadif, belajar sendirian bukanlah hal yang menantang. Ia merasa lebih fokus dan nyaman ketika belajar sendiri. Selain itu, ia tidak merasa malu untuk bertanya kepada guru jika ada materi yang tidak dipahami.

“Kalau belajar lebih fokus, lebih nyaman. Kalau kurang ngerti tinggal nanya aja gak malu. Kalau banyak mah suka malu sama teman-teman,” katanya.

Ia mengaku tidak mempermasalahkan hanya dirinya yang belajar di kelas 10. Baginya, yang penting saat ini adalah fokus pada pembelajaran.

“Gak ada masalah, yang penting belajar,” ujarnya.

Nadif baru mengetahui bahwa hanya dirinya yang diterima setelah mendaftar ke SMA Tamansiswa. Pada awalnya, ia tahu ada tujuh orang yang mendaftar, namun seiring waktu banyak yang pindah ke sekolah negeri.

Ia sempat mencoba mendaftar ke sekolah negeri melalui jalur prestasi, namun gagal. Akhirnya, ia memutuskan untuk melanjutkan studi di SMA Tamansiswa.

Saat ini, Nadif sedang bersiap mengikuti BK Porda dan Popda. Ia masuk sebagai anggota kontingen Kota Cimahi dan telah lolos seleksi BK Porda.

Kondisi Sekolah yang Menurun

Menurut Ketua Bidang Organisasi dan Panitera Yayasan Taman Siswa, Anwar Hadjah, jumlah calon siswa yang mendaftar ke SMA Tamansiswa sebanyak 12 orang. Namun, seiring waktu beberapa di antaranya memilih pindah ke sekolah negeri.

“Jadi tinggal dua, kemudian yang satu juga enggak ada beritanya, tinggal satu orang,” ujarnya.

Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu, di mana SMA Tamansiswa menerima 12 siswa. Sementara itu, jumlah siswa yang mendaftar ke SMK Tamansiswa mencapai lima orang. Namun, mereka juga pindah ke sekolah negeri, sehingga SMK Tamansiswa tidak memiliki siswa.

Anwar menyebutkan bahwa ada satu orang siswa SMK yang mendaftar dan masuk, tetapi akhirnya tidak bertahan.

“Padahal sudah bayar itu, sudah bayar mereka itu ya tapi karena pasti lebih milih negeri gitu ya,” ujarnya.

Sementara itu, jumlah siswa SMP yang mendaftar sebanyak belasan, namun hanya enam orang yang resmi bersekolah. Meskipun hanya satu siswa yang bersekolah, pihak sekolah tetap bertanggung jawab memberikan pelajaran kepada siswa tersebut.

“Iya tetap tetap kita kan harus bertanggung jawab gitu ya. Jadi tetap dilakukan, gurunya juga semangat. Siswa-siswanya walaupun satu tapi dia semangat untuk terus belajar,” kata Anwar.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *