Kekhawatiran Terhadap Kemanusiaan di Jalur Gaza
Di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk, jumlah anak-anak yang meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi di Jalur Gaza terus meningkat. Dalam periode 72 jam terakhir, sebanyak 21 anak dilaporkan meninggal dunia, sementara setidaknya 15 orang lainnya, termasuk seorang bayi berusia enam minggu, juga kehilangan nyawa mereka dalam 24 jam terakhir.
Keluarga bayi Yousef mengungkapkan kesulitan mereka dalam mencari susu formula untuk balita tersebut. Pamannya, Adham al-Safadi, menyampaikan bahwa susu tidak tersedia di mana-mana, dan jika ada, harganya sangat mahal, yaitu $100 per wadah. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya akses terhadap kebutuhan dasar bagi masyarakat di wilayah tersebut.
Selain itu, tiga anak lainnya termasuk dalam daftar 15 korban kematian akibat kelaparan pada hari Selasa. Salah satunya adalah Abdulhamid al-Ghalban, seorang remaja berusia 13 tahun yang meninggal di rumah sakit di kota Khan Younis. Dr. Mohammed Abu Salmiya, kepala rumah sakit di wilayah tersebut, menjelaskan bahwa kematian-kematian ini terjadi karena kondisi malnutrisi parah dan komplikasi akibat kelaparan yang terus berlanjut.
Kondisi Kemanusiaan yang Memburuk
Angka-angka ini memperkuat kekhawatiran terhadap situasi kemanusiaan di Gaza, di mana akses bantuan masih sangat terbatas. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza, sejak serangan Israel pada Oktober 2023, sedikitnya 101 orang, termasuk 80 anak-anak, telah meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi. Sebagian besar kematian terjadi dalam beberapa minggu terakhir, menunjukkan peningkatan drastis dalam jumlah korban.
Stok makanan di Gaza telah habis sejak Israel memutus semua pasokan ke wilayah tersebut pada bulan Maret. Meskipun Israel kemudian mencabut sebagian blokade pada Mei, hanya sedikit pasokan bantuan yang dapat masuk dan didistribusikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), yang didukung oleh AS dan Israel. Namun, distribusi bantuan ini tetap menghadapi banyak tantangan.
Tindakan Militer dan Pelanggaran Hukum Humaniter
Menurut PBB, lebih dari 1.000 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel saat berupaya mengakses makanan sejak dimulainya operasi GHF pada 26 Mei. Dari jumlah tersebut, 766 orang tewas di dekat lokasi distribusi GHF, sementara 288 orang tewas di dekat konvoi bantuan PBB dan lainnya. Juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Thameen Al-Kheetan, menyatakan bahwa kematian tersebut disebabkan oleh tembakan militer Israel.
Kepala badan pengungsi Palestina PBB, UNRWA, Phillipe Lazzarini, mengkritik skema distribusi bantuan yang disebut “GHF” sebagai “jebakan maut yang sadis”. Ia menilai bahwa penembak jitu Israel menembaki kerumunan secara acak, seolah-olah mereka diberi izin untuk membunuh.
Peringatan dari PBB dan Dunia Internasional
Israel menuduh Hamas menyedot bantuan tanpa memberikan bukti pengalihan yang meluas, serta menyalahkan badan-badan PBB atas gagalnya mengirimkan makanan yang diizinkan masuk. Lazzarini juga memperingatkan bahwa staf PBB, dokter, dan pekerja kemanusiaan di Gaza pingsan akibat kelaparan dan kelelahan.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Türk memperingatkan bahwa perintah evakuasi Israel dan operasi militer selanjutnya di Deir al-Balah dapat menyebabkan lebih banyak kematian warga sipil. Ia menegaskan bahwa risiko pembunuhan di luar hukum dan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional sangat tinggi.
Kecaman dan Harapan untuk Akses Kemanusiaan
Dalam pernyataan terpisah, diplomat tertinggi Uni Eropa, Kaja Kallas, mengutuk pembunuhan warga sipil di titik-titik distribusi bantuan. Ia menyampaikan bahwa pembunuhan tersebut tidak dapat dibenarkan dan telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar untuk memperkuat harapan mengenai akses kemanusiaan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut situasi yang dihadapi 2,3 juta warga Palestina di Gaza sebagai “pertunjukan horor”, dengan tingkat kematian dan kehancuran yang tak tertandingi dalam beberapa waktu terakhir. Ia menegaskan bahwa sistem kemanusiaan yang dibangun di atas prinsip-prinsip kemanusiaan kini tidak lagi memiliki kondisi untuk berfungsi.