Pengusiran Siswi SLB Negeri A Pajajaran dari Asrama Mengundang Kekhawatiran
Sebuah kejadian yang mengejutkan terjadi di Pusat Layanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Dua orang siswi SLB Negeri A Pajajaran Bandung diduga diusir secara paksa dari asrama mereka tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran terkait pengelolaan asrama serta hak-hak siswa disabilitas.
Menurut pembimbing asrama putri, Anggita Pratiwi, ruangan yang ditempati kedua siswi tersebut tiba-tiba dikosongkan. Ia menerima telepon dari pegawai PPSGHD untuk mengosongkan kamar tersebut. Namun, setelah dicek ulang, barang-barang milik siswa telah dikeluarkan dari kamar. Bahkan, kunci gembok di kamar tersebut dibongkar secara paksa.
“Barang-barang anak-anak sudah dikeluarkan dan kunci gembok yang ada di kamar itu dibongkar dibobol secara paksa gitu,” ujar Anggita saat ditemui di SLBN A Pajajaran.
Menurut Anggita, ruangan tersebut kemudian diisi oleh barang-barang alumni PPSGHD. Hal ini membuat dua siswi yang merupakan kelas 6 SD dan 11 SMA merasa syok. Mereka diperkenankan pulang lebih awal dari sekolah ke asrama mereka di Cibabat, Kota Cimahi. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya bahwa kamar mereka akan dihilangkan.
“Itu pas sudah sampai ke sana ya memang keadaan anak-anak itu syok, kaget gitulah. Mereka juga mengatakan bahwa kayak, ‘Bu, kirain teh pulang cepat mau jalan-jalan tapi kok ternyata malah diusir, malah dibongkar, malah kayak gini,’ gitu,” ucap Anggita menirukan ucapan siswi.
Sampai saat ini, Anggita masih belum mengetahui latar belakang pengosongan ruangan tersebut. Namun, ia mengatakan kedua siswi tersebut kini dikembalikan kepada orang tua mereka. “Untuk sementara waktu dikembalikan kepada orang tua. Kemarin dijemput jam 04.30 sore,” ujarnya.
Kehadiran asrama bagi siswa disabilitas sangat penting karena membantu dalam mobilitas mereka. Selama ini, ada kendaraan khusus yang mengantar dan menjemput siswa dari asrama ke sekolah. Namun, dengan kembali ke rumah, kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas belajar siswa.
Kekhawatiran Orang Tua
Orang tua dari salah satu siswi, Asep Sudrajat, mengungkapkan kekhawatiran terkait kejadian ini. Bukan hanya soal harus mengantar dan menjemput anaknya sendiri, tetapi lebih pada kekhawatiran terhadap pengawasan putrinya.
Asep mengatakan selama putrinya tinggal di asrama, ia bisa fokus pada pekerjaannya. Namun, dengan situasi sekarang, ia khawatir penjagaan terhadap putrinya tidak optimal.
“Anaknya perempuan, udah 17 tahun lagi, anaknya takut ke mana-mana. Saya kerja huat nafkahin juga. Kalau saya ngawasi saya enggak bisa,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan kekecewaannya karena tidak mendapat pemberitahuan tentang adanya dugaan pengusiran anaknya. Menurutnya, semua barang yang ada di asrama telah dikeluarkan tanpa pemberitahuan.
“Semua barang-barangnya yang di asrama itu sudah ada di luar asrama. Makanya saya itu tanya itu, ini yang ngambil siapa sebenarnya? Yang ngeluar-ngeluarin barang dari asrama itu siapa dari pihak mana? Tanpa ada pemberitahuan. Anaknya sedang berpendidikan di asrama, itu kan positif ya,” ujarnya.
Asep berharap pihak yang berwenang dapat membangun kembali asrama bagi anak-anak disabilitas seperti putrinya. Ia menilai hal ini sangat penting untuk kelangsungan pendidikan mereka.
“Harapannya dibangun lagilah asrama. Soalnya kan dari luar kota juga kan pasti butuh juga buat asrama putri yang sekolah,” katanya.
“Terus sekarang semua kayak saya ini, kan, enggak bisa (mengawasi). Kalau anaknya enggak saya awasi dia ke mana-mana,” tambahnya.