Serangan Israel yang Meluas dan Kekhawatiran Regional
Serangan terbaru yang dilakukan oleh negara Zionis, Israel, terhadap kota Doha di Qatar menambah panjang daftar negara-negara Arab yang menjadi sasaran serangan militer. Sejauh ini, sejumlah negara Arab hanya mampu menyampaikan kecaman tanpa melakukan tindakan nyata untuk menghentikan aksi-aksi yang dianggap tidak manusiawi tersebut.
Selama beberapa minggu terakhir, Israel terus melancarkan serangan udara ke wilayah Gaza, Lebanon, Suriah, dan Yaman. Dalam upaya menghambat alur bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina, sebuah pesawat tak berawak diduga milik Israel menyerang armada kemanusiaan yang berlabuh di Tunisia. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman dari Israel tidak hanya terbatas pada wilayah konflik langsung, tetapi juga mencakup wilayah-wilayah yang secara geografis jauh dari zona perang.
Dari negara-negara yang menjadi target, hanya beberapa kelompok yang memberikan perlawanan aktif. Di Yaman, kelompok Houthi menjadi satu-satunya yang bertahan dalam bentuk perlawanan militer. Sementara itu, di Lebanon, Hizbullah dan di Iran, Garda Revolusi Iran menjadi penghalang utama terhadap aksi Israel. Di Jalur Gaza, Hamas dan faksi-faksi lainnya masih berusaha mempertahankan posisi mereka meskipun menghadapi operasi militer darat yang intensif.
Pada awal pekan ini, Israel kembali melakukan serangan ke Suriah. Target serangan ini mencakup pusat kota Homs, kota pesisir Latakia, serta kota bersejarah Palmyra. Pihak Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan dan stabilitas regional. Mereka menggambarkan serangan sebagai bagian dari rangkaian eskalasi yang dilakukan Israel terhadap wilayah Suriah.
Media Suriah tidak merinci dampak serangan tersebut. Namun, Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) melaporkan bahwa serangan Israel di dekat Homs menargetkan unit militer di selatan kota. Selain itu, banyak bangunan rusak akibat serangan-serangan yang terjadi di berbagai wilayah.
Sejak penggulingan Presiden Bashar al-Assad pada Desember lalu, Israel telah melakukan ratusan serangan di Suriah. Meski demikian, pihak Israel mulai menjalin dialog dengan pemerintah baru di Suriah. Pada akhir Agustus, tentara Israel meluncurkan operasi udara dan darat di selatan Damaskus, meskipun Israel belum mengonfirmasi serangan tersebut. Namun, Menteri Pertahanan Israel, Katz, menyatakan bahwa pasukan Israel terus beroperasi “siang dan malam” demi keamanan negara.
Di Lebanon, serangan Israel terus berlangsung, khususnya di wilayah selatan. Meskipun gencatan senjata mengharuskan penarikan penuh dari lima pos perbatasan, Israel tetap mempertahankan pendudukan. Konflik antara Israel dan Lebanon meletus pada 8 Oktober 2023, ketika Israel meluncurkan serangan militer. Setelah gencatan senjata dicapai pada November 2024, lebih dari 4.000 orang tewas dan hampir 17.000 luka-luka.
Di Yaman, kelompok Houthi mengonfirmasi bahwa Perdana Menteri Ahmed Ghaleb Nasser al-Rahawi gugur dalam serangan udara Israel. Kelompok yang didukung Iran ini juga menyatakan bahwa beberapa pejabat senior lainnya turut meninggal dunia saat pasukan Israel menargetkan ibu kota Yaman, Sanaa.
Di Tunisia, armada Global Sumud Flotilla yang bertujuan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza melaporkan bahwa salah satu kapal mereka diserang oleh pesawat tak berawak. Garda Nasional Tunisia menyatakan bahwa tidak ada bukti serangan, namun saksi mata dan video menunjukkan indikasi kuat bahwa serangan benar-benar terjadi. Beredar kabar bahwa serangan dilakukan oleh agen Israel dari negara tetangga.
Serangan Israel terhadap wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap aman semakin memperlihatkan bahwa ancaman dari negara Zionis tidak hanya terbatas pada wilayah konflik langsung, tetapi juga mencakup wilayah-wilayah yang dianggap strategis atau memiliki potensi untuk menjadi jalur bantuan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan semakin luasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas regional.