Bahaya Penyalahgunaan Obat yang Harus Diketahui

Beberapa obat yang diresepkan untuk pengobatan penyakit justru bisa menjadi ancaman jika digunakan secara tidak benar. Banyak orang mencari cara cepat untuk merasa lebih baik, seperti meningkatkan energi, merasa tenang, atau bahkan mengalami sensasi euforia. Namun, efek yang dihasilkan dari penggunaan obat-obatan ini bisa sangat berbahaya dan menyebabkan masalah kesehatan serius.

Obat-obatan yang seharusnya membantu kesembuhan justru bisa menjadi pemicu penyalahgunaan dan kecanduan. Hal ini terjadi karena beberapa obat bekerja dengan memengaruhi sistem saraf pusat. Efek yang muncul, seperti rasa senang berlebihan atau ketenangan instan, membuat penggunanya cenderung ketergantungan dan ingin dosis yang lebih tinggi. Tindakan ini sangat berisiko dan bisa berujung pada komplikasi kesehatan yang mengancam nyawa.

Berikut adalah tujuh jenis obat yang sering disalahgunakan dan perlu diketahui:

1. Amfetamin

Amfetamin adalah stimulan yang awalnya diresepkan dokter untuk kondisi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), narkolepsi, obesitas, dan depresi. Tujuan utamanya adalah membantu pasien tetap terjaga dan fokus. Namun, amfetamin juga sering digunakan untuk meningkatkan energi dan performa oleh pekerja shift, pengemudi truk, maupun mahasiswa yang ingin begadang.

Penyalahgunaan amfetamin dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, stroke, kejang, paranoia, halusinasi, hingga serangan jantung. Karena risikonya yang besar, penggunaannya harus diawasi secara ketat.

2. Ritalin

Ritalin adalah stimulan lain yang bekerja dengan meningkatkan kadar dopamin di otak. Dopamin adalah zat kimia yang menciptakan perasaan bahagia dan nyaman. Karena efek inilah, Ritalin yang sebenarnya diresepkan untuk ADHD kerap disalahgunakan.

Peningkatan resep Ritalin menunjukkan risiko penyalahgunaan yang semakin tinggi. Efek samping dari penyalahgunaannya bisa sangat serius bagi sistem saraf pusat.

3. Kodein

Kodein sering ditemukan dalam kombinasi obat batuk dan pereda nyeri. Konsumsi dalam dosis tinggi bisa menyebabkan penurunan kesadaran. Sifat sedatifnya yang kuat juga memicu efek ketergantungan.

Selain kodein, obat batuk bebas yang mengandung dextromethorphan juga bisa disalahgunakan. Mengonsumsinya melebihi dosis anjuran dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah, mual, muntah, pusing, dan paranoia.

4. Oxycodone

Oxycodone adalah obat pereda nyeri golongan opioid yang bekerja dengan mengubah cara otak dan sistem saraf merespons rasa sakit, serta menciptakan sensasi euforia. Obat ini sering dijual dengan merek seperti OxyContin dan Percocet.

Efeknya yang mirip dengan heroin dan harga yang mahal membuat para penyalahguna melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Hal ini menunjukkan tingkat kecanduan yang sangat tinggi.

5. Demerol dan Darvocet

Demerol dan Darvocet adalah obat penghilang nyeri yang sering disalahgunakan karena efek sampingnya langsung terasa. Pengguna seringkali menjadi toleran terhadap efeknya, sehingga harus terus meningkatkan dosis.

Karena efek sampingnya yang berbahaya dan bisa menyebabkan komplikasi jantung, Darvocet bahkan ditarik dari peredaran di Amerika Serikat pada tahun 2010.

6. Xanax

Xanax, yang memiliki nama kimia alprazolam, adalah obat golongan benzodiazepine yang diresepkan untuk gangguan panik dan kecemasan. Obat ini sering disalahgunakan karena memberikan efek relaksasi instan.

Sebagai depresan sistem saraf pusat, Xanax memperlambat kerja otak dan sistem saraf. Penyalahgunaannya dapat menyebabkan pusing, kebingungan, gangguan koordinasi, dan masalah memori.

7. Barbiturat

Barbiturat adalah jenis depresan sistem saraf pusat lainnya. Obat penenang ini digunakan untuk mengatasi kecemasan, kejang, dan insomnia. Sama seperti benzodiazepine, penyalahgunaan barbiturat sangat berisiko, bahkan dapat menyebabkan demam tinggi dan mengancam nyawa.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *