Iran Tetap Konsisten dengan Program Nuklir Meski Menghadapi Serangan

Pemerintah Iran tetap mempertahankan program nuklirnya, meskipun fasilitas nuklir negara tersebut mengalami kerusakan parah akibat serangan udara yang dilakukan oleh militer Israel dan Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pengayaan uranium adalah bagian penting dari identitas nasional dan kebanggaan ilmuwan-ilmuwan negara tersebut.

Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News yang disiarkan pada Senin (21/7), Araghchi menyatakan bahwa meskipun proses pengayaan uranium saat ini terhenti sementara karena kerusakan yang signifikan, Iran tidak akan berhenti. “Ini bukan hanya pencapaian ilmuwan kami, tetapi juga soal harga diri nasional,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan sikap tegas Iran terhadap tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat, yang selama ini menuduh Teheran menyembunyikan ambisi membuat senjata nuklir. Araghchi membantah tudingan tersebut dan menekankan bahwa program nuklir Iran hanya untuk tujuan damai. Ia juga menyatakan siap melakukan langkah-langkah pembangunan kepercayaan agar dapat membuktikan bahwa program tersebut benar-benar damai dan akan tetap demikian selamanya.

“Kami tidak akan pernah mengejar senjata nuklir. Sebagai imbalannya, kami berharap sanksi internasional dapat dicabut,” tambahnya.

Dalam wawancara yang berlangsung selama 16 menit tersebut, Araghchi juga menyampaikan bahwa Iran terbuka untuk bernegosiasi dengan AS, meskipun belum siap untuk melakukan pembicaraan langsung dalam waktu dekat. “Jika mereka datang dengan solusi win-win, saya siap berdialog,” katanya.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Washington setelah runtuhnya negosiasi terbaru pada Mei lalu. Ketegangan semakin memuncak ketika Israel meluncurkan serangan mendadak ke sejumlah fasilitas militer dan nuklir Iran pada 13 Juni lalu. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 900 orang di Iran dan 28 di Israel, sebelum gencatan senjata dicapai pada 24 Juni.

Serangan tersebut juga melibatkan militer AS. Pentagon mengklaim bahwa serangan itu telah menunda program nuklir Iran selama satu hingga dua tahun. Namun, Araghchi menyebut bahwa Badan Energi Atom Iran masih mengevaluasi dampak kerusakan terhadap material uranium yang diperkaya dan akan segera melaporkan temuannya kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

“Kami belum menghentikan kerja sama kami dengan badan tersebut,” kata Araghchi. Meskipun begitu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya telah menandatangani undang-undang untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA menyusul resolusi pada 12 Juni yang menuduh Teheran tidak mematuhi kewajibannya.

Iran mengecam resolusi tersebut dan menyebutnya sebagai dalih yang digunakan Israel untuk melancarkan serangan militer. Sementara itu, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyatakan bahwa PBB menyambut baik dimulainya kembali dialog antara Iran dan negara-negara Eropa.

Pertemuan lanjutan akan digelar di Turki pada Jumat mendatang, melibatkan Iran, Prancis, Jerman, dan Inggris — tiga negara penandatangan awal perjanjian nuklir JCPOA. Ketiganya menegaskan bahwa jika Iran tak segera kembali ke meja perundingan, sanksi internasional dapat diberlakukan kembali.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *