Kesehatan Mental Anak dan Remaja di Indonesia: Masalah yang Mengkhawatirkan

Di Indonesia, satu dari tiga anak usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa jumlah anak dengan gangguan kesehatan mental diperkirakan akan meningkat hingga 2025, mengingat peningkatan kunjungan ke biro psikologi sebesar 20-30 persen. Meskipun kesadaran orang tua dan lingkungan meningkat, gejala awal sering kali disalahartikan sebagai perilaku “nakal”, “malas”, atau “manja”, bukan sebagai tanda masalah kesehatan mental.

Psikolog dan pendidik Najelaa Shihab menjelaskan bahwa berbagai faktor seperti pengasuhan di rumah, pembelajaran guru di sekolah, interaksi dengan teman sebaya, serta pengalaman dan kecenderungan individual anak dan remaja dapat memengaruhi kesehatan mentalnya. Ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara orang tua dan sekolah dalam menjaga kesehatan mental anak. Tanpa rencana aksi bersama, masalah di satu konteks bisa tereskalasi di konteks lain.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun mengalami kondisi gangguan kesehatan mental. Anak dan remaja dengan kondisi ini rentan terhadap pengucilan sosial, diskriminasi, stigma, serta risiko kesehatan fisik dan pelanggaran hak asasi manusia.

Kisah Ade: Dari Bullying Hingga Diagnosa Bipolar

Ade, seorang anak berusia 13 tahun, pernah menjadi korban bullying karena dianggap “emosinya sulit dikendalikan”. Ketika membela diri dari perundungan, ia justru disalahkan. Pengalaman itu menyebabkan ketidakstabilan emosinya, sehingga ia sering melawan guru, kepala sekolah, dan satpam. Setelah lulus SD, Nurlinda, ibunya, memutuskan untuk memeriksakan Ade ke rumah sakit jiwa karena kondisi emosinya tidak terkontrol.

Ade didiagnosis ADHD, namun ledakan emosi yang sering terjadi saat senang dan marah membawanya pada diagnosis bipolar. Selain itu, Ade juga mengalami disabilitas mental ringan. Kini, Ade bersekolah di SLB di Kota Bandung dan telah menunjukkan perkembangan yang baik.

Pengalaman Mima: Dari Gejala Fisik Hingga Diagnosis Bipolar

Mima, putri dari Mona Ratuliu dan Indra Brasco, mengalami gejala awal kesehatan mental sejak usia anak-anak. Gejala fisik seperti sakit perut dan sesak napas muncul saat usianya 11-12 tahun. Awalnya, Mona bingung dengan keluhan tersebut, tetapi setelah berkonsultasi dengan psikolog, Mima akhirnya mendapatkan diagnosis bipolar dan borderline personality disorder.

Pandemi memperparah kondisi Mima, hingga ia melakukan percobaan bunuh diri. Namun, dengan dukungan keluarga dan terapi yang tepat, Mima kini sedang menyelesaikan skripsinya di bidang psikologi dan aktif dalam advokasi kesehatan mental.

Deteksi Gejala Awal Kesehatan Mental

Menurut Anggiastri Utami, pemilik Rumah Pengembangan Diri dan Stimulasi Anak Kemuning Kembar, gangguan kesehatan mental berproses. Pada usia 7-10 tahun, gejala awal mulai terdeteksi. Perubahan suasana hati, kecemasan, dan kekecewaan bisa menjadi indikasi awal. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi atau gangguan kecemasan.

Dian Sudiono Putri, Sekretaris Ikatan Psikologi Klinis Himpunan Psikologi Indonesia, menekankan pentingnya memahami kepribadian anak. Anak yang tidak percaya diri biasanya sulit mengartikulasikan perasaannya, sehingga rentan menjadi korban kekerasan.

Penyebab Gangguan Kesehatan Mental

Menurut Dian, pengalaman buruk di sekolah seperti perundungan menjadi salah satu pemicu gangguan kesehatan mental pada anak. Pola asuh di rumah, lingkungan di sekolah, kecanduan gawai, trauma, kekerasan, dan faktor kesehatan mental lainnya juga bisa memicu gangguan kesehatan mental.

Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan bahwa 33,64% anak mengalami kekerasan (fisik, emosional, atau seksual) dalam 12 bulan terakhir. Kekerasan emosional oleh orang tua dan teman sebaya adalah bentuk kekerasan yang paling umum.

Dampak Ekonomi Terhadap Kesehatan Mental

Anak-anak dari lingkungan sosial ekonomi yang kurang berkembang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Tingkat stres orang tua yang tinggi karena kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari membuat anak menjadi pelampiasan lelah dan rasa kesal. Selain itu, cemas mengenai finansial keluarga juga berdampak pada kesehatan mental anak.

Upaya Mengatasi Masalah Kesehatan Mental

Keluarga merupakan benteng utama dalam menjaga kesehatan mental anak. Orang tua harus belajar obyektif dan bersedia mendengar cerita anak. Resiliensi anak juga harus dibangun dengan menerapkan teori sebab-akibat dan bukan menyalahkan orang atau hal lain.

Sekolah dan rumah harus bekerja sama dalam mengaktivasi proses yang sesuai dengan aspek perkembangan anak. Pendidik, baik orang tua maupun guru, adalah “pendidik yang penumbuh, bukan penghambat”.

Peran Pemerintah dalam Menangani Masalah Kesehatan Mental

Kementerian Kesehatan telah melakukan langkah promotif dengan mendorong pengasuhan positif. Pelatihan pengasuhan positif dilakukan di 341 kabupaten/kota di 38 provinsi. Selain itu, tersedia Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis, dengan target 650.000 first aider dilatih pada 2024.

Di Inggris, antrean akses layanan kesehatan jiwa meningkat signifikan. Pemerintah Indonesia juga mendorong Pelayanan Ramah Anak dan Remaja di Puskesmas serta pengembangan Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA).

Kesimpulan

Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah untuk memberikan dukungan yang optimal. Dengan kesadaran yang lebih tinggi dan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan anak dan remaja.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *