Peran Rumah Singgah dalam Menyelamatkan Anak-Anak yang Terlantar

Rumah Singgah yang berada di Jalan Gubernur Soebardjo, Kelurahan Kelayan Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan, memainkan peran penting dalam menampung anak-anak yang terlantar. Tempat ini menjadi tempat sementara bagi anak jalanan maupun mereka yang tertangkap dalam razia oleh Satpol PP, kepolisian, atau diberi laporan oleh masyarakat.

Koordinator Rumah Singgah, Noor Ahmad Safaruddin, menjelaskan bahwa rumah ini bersifat sementara. Anak-anak yang datang akan melalui proses pendampingan sebelum diberikan pilihan untuk tinggal di panti atau bahkan masuk Sekolah Rakyat. Jika tidak ada keluarga yang menjemput karena tidak memiliki orangtua, pihak Rumah Singgah akan melakukan koordinasi dengan panti-panti lain. Di sana, anak-anak akan diberikan sandang, pangan, pakaian, dan pendidikan.

Pembinaan dan Pelatihan yang Dilakukan

Untuk membantu perkembangan anak-anak, Rumah Singgah menyediakan berbagai kegiatan pembinaan. Termasuk dalamnya adalah kegiatan keagamaan, senam, serta pelatihan keterampilan. Meski fasilitas lapangan untuk olahraga masih terbatas, kegiatan seperti baca tulis Al-Qur’an dan pelayanan dapur serta ruang makan sudah tersedia secara lengkap.

Rumah Singgah juga bekerja sama dengan puskesmas agar dokter dapat berkunjung secara berkala. Dengan adanya kerja sama ini, anak-anak yang ditampung bisa mendapatkan layanan kesehatan yang cukup memadai.

Struktur Petugas dan Kondisi Saat Ini

Dalam operasionalnya, Rumah Singgah didukung oleh 13 petugas pembina, 2 petugas dapur, 1 petugas kebersihan, dan 6 pendamping khusus rehabilitasi sosial. Namun, jumlah anak telantar yang datang justru meningkat seiring berjalannya waktu. Ahmad mengatakan, hal ini mungkin disebabkan oleh faktor ekonomi dan putus sekolah.

Ahmad menilai koordinasi lintas instansi seperti Dinas Sosial, Kemenag, Dinas Kesehatan, Satpol PP, dan Kepolisian sangat penting agar penanganan sosial bisa dilakukan secara menyeluruh.

Kisah-kisah Haru dan Kepekaan

Ahmad menyimpan banyak kisah haru tentang anak-anak yang pernah ditampung di Rumah Singgah. Kepekaannya tidak hanya berhenti di ruang kerja, tetapi juga mencerminkan kasih seorang ayah kepada mereka yang ditelantarkan.

“Saya sedih, anak-anak itu harusnya memiliki pendidikan yang baik. Masa depan mereka justru sulit karena mereka putus sekolah, kemudian tinggal di jalanan, menjadi badut di jalanan, menjadi manusia silver. Kami sangat sedih,” ujarnya.

Banyak anak yang tidak ingin pulang karena merasa lebih nyaman di Rumah Singgah daripada kembali ke keluarga mereka. Mereka lebih senang dengan perhatian pembimbing di tempat tersebut. Namun, Ahmad menjelaskan bahwa anak tetap menjadi tanggung jawab orangtuanya, meskipun begitu peran ibu tidak bisa digantikan.

Contoh Kasus yang Mengharukan

Dalam sebuah momen yang menyentuh, Ahmad menceritakan tentang seorang anak yatim yang mengalami kekerasan dari keluarga yang menampungnya. Setelah berada di Rumah Singgah, anak tersebut diberi makanan, susu, dan pakaian. Lihatlah respons dan aura wajah sang anak, Ahmad bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Saat kita beri mereka seperti terheran dengan wajah yang senang seolah mereka baru mendapatkan kasih sayang. Kami mendengar sangat sedih seperti melihat anak sendirilah, yah mungkin dia belum pernah merasakan jajanan yang kami berikan seperti makanan dan minuman dari mini market,” kenangnya.

Kehadiran Anak yang Pernah Ditampung

Ahmad juga pernah dikunjungi oleh seorang anak yang dulu ditampung dan kini membawa kabar baik setelah sekian lama anak tersebut dikembalikan. “Dia bilang, ‘bapak saya sudah bekerja’, lama sekali dia masih ingat bahkan membawa oleh-oleh ke sini membawakan makanan,” ucap Ahmad.

Masalah yang Tidak Berhenti di Usia Remaja

Masalah anak telantar tidak hanya terjadi pada usia remaja. Ahmad mengungkapkan beberapa kasus, seperti anak bayi berusia 3 hingga 6 bulan yang pernah dititipkan bersama ibu yang mengidap gangguan mental. Kemudian dibawa mereka oleh polisi ke Rumah Singgah dan kami coba hubungi keluarganya.

Mendukung Kreativitas Tanpa Eksploitasi

Di balik kesulitan itu, Ahmad tetap mendukung kreativitas anak-anak selama tidak dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi. “Anak-anak itu mesti didorong kreativitasnya tapi tidak di lampu merah tidak di jalanan, jangan kreativitas anak juga dijadikan exploitasi apa lagi sampai ke jalanan,” tegasnya.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *